Prenote: Inspirasi hari ini datang dari status FB yg ditulis oleh Grediana Nano, a very sweet friend & one of my blog visitors. Thank you :*
How good it feels to finally forgive someone: kayak setelah 4 hari, akhirnya ke belakang.
- Grediana Nano, 27 tahun, Malang
Status singkat itu mau nggak mau membuat saya tersenyum pagi ini. Lucu, dan menohok. Ah, tapi… bener juga.
Pikiran saya melayang-layang, lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat saya berjanji pada diri sendiri untuk memutus tali persahabatan dengan seseorang, setelah persahabatan kami berujung kekecewaan di pihak saya. Cut! Seperti ada gunting yang tidak terlihat, saya tebas tali itu secara sepihak. Putuslah persahabatan, pertemanan. Lama kelamaan, putus juga kontak antara kami, hingga kini. Masuklah wajah itu ke kotak hitam. Lost in time, never to be heard of… ever again.
Seiring waktu, kekecewaan itu terlupakan. Mungkin kalau mau jujur (tapi kejam), malahan hidup saya jadi lebih tenang. Tapi rasanya seperti ada bagian cerita yang belum selesai, yang belum ada endingnya. Yang terputus secara tiba-tiba tanpa penyelesaian yang nyata. Pernah nonton film atau cerita yang selesainya gak tuntas dan meninggalkan tanda tanya nggak? Nggak enak kan, seperti ada yang masih mengganjal? Ya seperti itulah.
Status teman saya Nano, pagi ini, seperti menamparkan kenyataan itu ke wajah saya. Plakkk plakk plakk! Itu kan saya! Orang yang sampai lebih dari 10 tahun belum juga ke belakang. 10 tahun lamanya! Ya Alah, saya “sembelit” batin! Ada yang belum tuntas, yang mengendap di dalam tubuh.
10 tahun.
Saya ingin melepaskan diri saya dari penyakit ini, dari sembelit ini. Bagaimana caranya? Tekad saya pagi ini membawa saya mengartikan rasa sakit, dan beban hati, dengan cara yang berbeda…
——
Pikiran saya masih melayang ke 10 tahun yang lalu, ketika tiba-tiba terselip sesuatu – yang masih juga membahas tentang konsep “ke belakang.” Saya jadi teringat Kakek saya punya tebak-tebakan guyon, dalam bahasa Jawa.
“Tas opo sing paling enteng?” tanya kakek. (translated: tas apa yang paling enteng)
Sementara saya berpikir keras dengan wajah bingung, kakek tersenyum penuh kemenangan lalu menjawabnya sendiri: “Tas ngising!” (translated: baru saja BAB; tas (ntas) = baru saja; ngising = BAB). Lalu kami semuapun tertawa terkekeh-kekeh.

Tebakan kakek ditambah status Nano membuat saya teringat konsep simple yang menjawab pertanyaan saya. Bagaimana membuat “tas” itu enteng? Ya mengosongkan isinya, dong. So, bagaimana melepaskan diri saya dari beban ini? Ya mengeluarkannya. Dalam kasus saya, mengeluarkan berarti: memaafkan.
“Tapi, apa yang dia lakukan dulu kan keterlaluan, masa kamu bisa memaafkan dia?” begitu protes hati kecil saya.
Saya terdiam. Mungkin, saya tidak bisa memaafkan dia dalam artian menerima sosoknya kembali seperti dulu lagi. Tapi, saya bisa memaafkan apa yang dia lakukan saja, itu cukup. Itu kan tidak berarti semuanya harus kembali seperti dulu lagi? Untuk jadi sahabat yang selalu bersama-sama, mungkin tidak bisa, tapi paling tidak saya bisa melihat wajahnya lagi tanpa diliputi rasa benci. Mudah saja kan?
“I like you as a person, Monica, and I wanna stay friends with you. But if we’re being roommates I cannot see that coming… and I don’t want that.”
kata Phoebe ke Monica, dalam satu episode serial Friends
Makes sense, saya pikir. Semua pertemanan, atau hubungan kita dengan manusia lain, tidak harus sempurna. Saya tidak bisa menjadi teman setia semua orang, atau membuat semua orang menyukai saya. And vice versa. Tapi, bukan berarti saya harus menghilangkan mereka dari kehidupan ini. Melupakan apa yang pernah mereka lakukan pastinya tidak mungkin, apalagi rasa sakit yang pernah terasa begitu hebatnya. At least, kita bisa membuat orang itu tidak membebani langkah kita kedepan.
Sayangilah diri kita, dan sisa umur kita, dengan membuatnya lepas dari beban, benci dan dendam, apapun itu.
——–
Rasa sakit, beban, apapun namanya. Sungguh ajaib, bagaimana tubuh kita bisa merasakannya. Setiap ada penyakit, kita merasakan sakit. Rasa sakit itu berkata pada kita, bahwa ada sesuatu yang harus segera dikeluarkan. Coba lihat buang air besar, didahului rasa sakit, apalagi jika sudah absen berhari-hari. Melahirkan, juga didahului rasa sakit.
Rasa sakit itu kita rasakan saat tubuh kita terganggu oleh beban yang harus segera dikeluarkan. Semakin kita menolak mengeluarkan beban itu, semakin sakit rasanya. Rasa sakit hanya bisa hilang dengan melepaskan apa yang jadi beban penyebabnya. Don’t you think?
Begitu juga rasa sakit secara harfiah. Dalam kehidupan ini, pasti ada orang-orang yang menyakiti hati kita. Terkadang, membuat kita menderita. Apa yang mereka lakukan mungkin sungguh sangat keterlaluan, tidak adil, tidak berperasaan. Terkadang rasa marah itu begitu membludak di hati kita. Seandainya membunuh itu halal, pastilah kita sudah melakukannya.
Sayangnya, karena membunuh itu bukannya menyelesaikan masalah malah bisa membuat kita dipenjara, kita akhirnya memilih untuk “membunuh”. Ya, kita “membunuh” figur itu. Memutus kontak, membuang wajah itu jauh-jauh. Nah, apakah “membunuh” sama dengan melepaskan beban? Don’t think so.
Dan begitulah, saya mengambil kesimpulan pagi ini dengan senyum manis. Seketika, sensasi tas-ngising merebak di hati saya. Walau sepuluh tahun lebih kontak itu terputus sudah (dan sepertinya nggak lucu kalau saya tiba-tiba muncul lagi di kehidupannya) ….setidaknya rasa memaafkan itu hadir di hati saya pagi ini. Benci itu menguap, dan saya rasa, itu awal yang baik.
——
*pic from thelondonrulebook.co.uk
kalo km sbg pihak yg memutuskan persahabatan, aku pernah sbg pihak yg “diputuskan”, ditinggalkan begitu saja hanya dengan penjelasan tertulis yg penuh jugdment terhadapku, judgment yg bahkan belum dikroscek scr face to face denganku, padahal sebelumnya kami deket banget dan sering ketemu (ini yg paling aktual, sblmnya jg pernah bbrp kali *ngenes yo*). akupun merasakan kekecewaan yg mendalam, bahkan hingga detik ini. karena aku sudah berusaha menjalin kembali hubungan itu tapi malah dapet respon yg negatif. oke, aku sudah melakukan terbaik yg bisa kulakukan, tapi ketika orang itu tiba2 bersikap manis padaku seolah tidak pernah terjadi apa2 diantara kami, aku ga pernah lagi percaya sama dia, dan aku menjaga jarak dengannya.
kalo ada istilah forgiven not forgotten, kurasa ini cocok untuk menggambarkan keadaanku terhadap dia.. aku sudah memaafkan dia atas judgmentnya, tapi aku ga bisa lupa.
setelah bbrp bulan berlalu aku bisa bilang:
“hm.. emang selama ini baiknya dia ke aku tuh ga tulus”
“kami emang orang yg bener2 berbeda”
“ternyata banyak hikmah yg aku dapat setelah ga berteman lagi ma dia”
sekali lagi, tapi aku ga bisa lupa sikap dia thdku.. mungkin aku butuh lebih banyak waktu..
btw, mnrtku km sudah mengambil langkah yg bagus untuk memaafkan dia
meski dia ga tau, tp toh Gusti Allah mboten sare..
Kun, hari ini aku iseng2 lagi baca postinganku ini en baca komen dari kamu.Soalnya kebetulan masalah ini barusan terjadi lagi, dengan orang yg berbeda, tp belum sampe pada poin dimana aku memutuskan pertemanan. So aku mencoba mengingatkan diriku lagi ttg hal ini sambil baca post ini lagi dan komenmu. Tiba2 aku berhasrat banget pengen nulis something.
Mungkin kita sbg org Islam lupa dg satu hal: memutuskan tali silaturahmi itu sangat dibenci Allah. Dan memang, stlh aku mengalaminya sendiri, itu malah bikin aku sendiri merugi. Aku jadi nggak tenang hidup, takut suatu waktu ketemu lagi sm orang itu, serba ga enak pokoknya. Jadi ga enteng sendiri. So yg lebih baik adalah memaafkan. Walaupun tak bisa melupakan. Forgiven not forgotten, that is true.
“Forgiving” membuat kita enteng menghadapi dia, dan tak membuat apa yg terjadi di antara kita membebani langkahku sendiri ke depan.
Tapi itu juga harus diimbangi dengan “Forgotten”. Jadi meskipun kita tetap menjaga tali silaturahmi dengan ybs., kita jadi punya rambu2 sekarang untuk tidak mengulangi kesalahan yg sama.
Nah dengan cara ini, kita pun menyelamatkan diri kita sendiri. Kita tidak membuat dia membebani kita, dan kita tidak nambah2 dosa kita sendiri dg (mungkin) mendzolimi dan menyakiti dia.