Tulis-menulis

Melepaskanmu

WhatsApp Image 2017-04-16 at 11.38.52

Tanah Kusir, 2017.

Di depan pusaramu semua kenangan kita bermain-main seperti flashback.

Pasar mayestik,

Toko Esa Mokan,

D-Best Fatmawati,

Pasar besar Malang,

Toko buku Siswa,

Pangsit Mie Gadjah Mada Pecinan, Malang…

Naik becak denganmu di Malang atau naik bajaj bersamamu di Jakarta. Bajaj oranye yang kini sudah punah. Lenganmu yang gendut menggamitku kuat-kuat. Menyusuri gang demi gang, kita keluar masuk pertokoan. Kita sama-sama suka lihat-lihat tas.

“Uti ini nggak hobi baju, tapi hobi tas. Lihat-lihat aja udah seneng.”

“Sama Ti, aku juga.”

Lalu Uti akan mentraktirku makan, sebagai upah nemenin jalan-jalan. Mau di ITC Fatmawati kek, Mayestik kek, atau Pasar Besar… kita selalu cari Bakmi Pangsit. Itu favorit kita berdua. Bakmi dengan pangsit rebus panas-panas… Habis makan, kita melewati toko emas. Mata Uti berbinar, tak tahan ingin mampir.

“Bentar, aku ta’ liat-liat mas-masan dulu,” katamu. Selain tas, mas-masan adalah benda favoritmu pula, jadi mampir toko mas adalah sebuah keharusan. Walau kita sama-sama tahu, tak ada yang bakal dibeli. Lalu pulang. Kembali naik bajaj oranye. Sesampainya di depan gerbang komplek, jari-jari gemukmu akan sibuk merogoh dompet mengambil lembaran lima ribuan yang sudah diuwel-uwel. Aku akan diam-diam tertawa melihat isi dompetmu yang amburadul. Uti dan Ibuku persis sama, suka nggak sabaran masukin uang ke dalam dompet. Apalagi kalau duitnya udah lecek. Pasti bakal makin diuwel-uwel.

Terlalu banyak kenangan bersamamu, Uti. Terutama tahun 2004-2005 semasa aku bekerja di Sudirman dulu. Aku selalu penuh sukacita pulang ke rumahmu di Haji Nawi setiap weekend. Menumpang kopaja dari dekat kost di Setiabudi, hingga terminal blok M, lalu lanjut dengan metro mini. Berjalan dari pertigaan margaguna di siang bolong. Lalu menjumpaimu duduk di ruang tamu sedang mengisi Teka-Teki Silang. Aku senang menghabiskan waktu di rumahmu. Memakan masakanmu yang sedap. Mendengarkan cerita-ceritamu. Atau larut malam, sayup-sayup mendengar kau menyanyikan kidung-kidung Jawa sambil menidurkan Dini, sepupuku yang masih bayi.

Yo prakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan padhangé kaya rina
Rembulané kang ngawé-awé
Ngélikaké aja turu soré-soré

….

Ketika aku pulang, tahun 2012, fisikmu sudah mulai melemah sejak serangan stroke pertama tahun 2009. Seingatku, aku tak lagi pernah mendengarmu bernyanyi. Jalanmu agak tertatih. Kau tak lagi mengajakku belanja-belanji. Terkadang saja kau masih naik bajaj biru (karena bajaj oranye udah dihapuskan) pergi ke apotik Cilandak untuk menemani Kakek ke dokter. Tapi sudah tak ada lagi acara njajan dan jalan-jalan ke Mayestik. Kau sudah mulai sakit. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2013, serangan stroke kedua, membuat kelemahanmu bertambah-tambah. Jalanmu harus dipapah, bahkan untuk pergi jauh kau harus menggunakan kursi roda. Kau tak lagi banyak sibuk di dapur membantu bik Ida masak. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2014, serangan stroke ketiga. Sejak saat itu kondisimu jelas makin menurun. Setiap hari putra-putrimu bertanya-tanya, sampai kapan kau kuat? Sampai kapan bertahan? Bicaramu mulai sulit. Bawelmu mulai hilang. Tapi tawa yang renyah melengking itu kadang masih ada…

2015 dan 2016, makin jelas di mataku bahwa hitungan mundur menuju hari kita berpisah telah dimulai. Kulitmu mulai kehilangan cahayanya, makin hari makin keriput dan kusam. Tubuhmu yang dulu gemuk segar jadi makin kurus. Tulang-tulangmu mengecil. Tawa renyahmu makin jarang terdengar. Sangat jarang…

2017, matamu mulai kehilangan binarnya. Satu serangan stroke terakhir di tahun 2016 membuat bicaramu benar-benar terganggu. Kami hanya bisa menebak-nebak maksudmu. Mengucapkan beberapa patah kata seperti membuatmu tersiksa. Begitu banyak energi yang kau keluarkan. Kau terlihat letih. Menolak memakai gigi palsumu hingga pipimu kempot dan terlihat jauh lebih tua dari usiamu…

Dan lima hari yang lalu, penyakit yang menggerogotimu pelan-pelan itu akhirnya mencapai titik fatalnya. Jantung. Tahukah Uti, wajah putra-putrimu yang basah dan bengap karena air mata, melihat fisik kecilmu yang sudah menyerah? Pada akhirnya, hitungan mundur itu pun semakin jelas. Tak ada lagi yang bisa diperjuangkan di dunia ini.

Dan mereka akhirnya memilih berjuang untuk akhiratmu. Mentalqinmu. Membisikkan kalimat-kalimat Allah di telingamu…

Semua terpampang dengan jelas, seperti flashback.

Melepaskanmu, pelan-pelan.

Melihat fisikmu melemah dari tahun ke tahun.

Sungguh, Allah tak pernah salah merancang siklus hidup manusia.

Dari tanah kembali ke tanah

Yang lemah kembali lemah

Terlahir dengan akal yang pelupa dan kelak akan lupa

Allahummagh firlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha

15 November 1937 – 12 April 2017

Catatan dari resto kecil

Nyeneng-nyenengin karyawan, yuk!

Gak kerasa, udah hampir setahun umur resto kecil. Sejak Mei 2016 itu, gak terhitung berapa ratus purnama, eh…, berapa ratus kali aku sudah pasang kuping buat jadi tempat curhat suami sepulang jaga resto. Ikut nangis, ikut seneng, ikut sebel, ikut terharu mendengar segala drama. Drama dari lantai servis karena customer berulah , juga drama di balik layar karena konflik dengan supplier dan rekanan. Tapi bisa dibilang cerita-cerita penuh warna kami dapat dari karyawan. Tingkah polah mereka itu sungguh… mau bilang nyebelin, kadang lemotnya ga ketulungan, kadang nglunjak, tapi ga tega :p  … menggemashhhkan.

Yup, siapapun yang pernah ngrasain punya karyawan (asisten rumah tangga juga termasuk karyawan lho) pasti setuju: hubungan sama karyawan itu benci tapi cinta, butuh tapi cuek… Kalo nemu yang udah setia tuh seneng banget meski kadang pengen ngunyel-ngunyel kalo lagi pada “kumat”.

Cerita sedikit nih, Mbrotje dan dua rekannya memulai restoran steak kecil ini tanpa modal fantastis. Setelah habis untuk biaya renovasi, bikin dapur, tersisalah budget seadanya yang artinya kami cuma mampu menggaji anak-anak “biasa”, bukan anak-anak jebolan sekolah kuliner atau perhotelan yang standar gajinya tinggi. Bagaikan plot film The Replacements yang dibintangi Mas Keanu Reeves, kami harus bisa membentuk team dapur dan servis dari orang-orang “pinggiran” dan “cadangan”. Jadilah kami mengalami yang namanya mempekerjakan orang sembarangan. Ada yang ditegur dikit ngambek, ada yang cuma dateng dua hari terus kabur (mana bawa seragam lagi -_-” ), ada yang demen bohong, ada yang ketahuan nyuri daging…

Setelah bertemu dan berpisah dengan orang-orang aneh, Alhamdulillah sekarang kami punya 6 karyawan. Team ini bisa dibilang cukup solid, udah bertahan sejak November. Kenalan dulu yuuuk dengan karyawan-karyawan kesayangan kami ini:

Di team waitress ada trio cewek: si L, T dan M.

L jebolan pesantren dengan pengalaman kerja jadi pelayan di warung nasi goreng dan kedai es krim. Inget banget di hari pertamanya kerja, aku yang ngajarin dia (waktu itu nyonya chef masih bantu-bantu operasional karena resto kecil hanya punya 1 karyawan tok!). Shock karena si L bahasa inggrisnya belepotan, bedanya “mushroom” sama “mash potato” aja nggak ngerti. Alhamdulillah kini dia banyak kemajuan.

T dan M, dua cewek manis anak betawi asli, dan dua-duanya lulusan SMA biasa. Gak punya pengalaman kerja di restoran sebelumnya. T masuk duluan sekitar September, lalu dia bawa tetangganya si M ini. Katanya si M itu “temen orok” (bahasa Betawi artinya “teman dari kecil”). T wajahnya agak jutek, sementara si M lebih kalem.

Kemudian ada si Is, tukang cuci piring, kadang disuruh belanja dan kru dapur cadangan. Is dari Cilacap dan cuma lulusan SD. Dia ini kalau nulis daftar belanjaan kadang bikin ngakak, misalnya tau-tau kirim WA “Sanlek abis.” Ternyata “Sanlek” yang dimaksud adalah “Sunlight” sabun cuci piring :p Tapi Mbrotje telaten ngajarin Is untuk bikin kue. Sekarang Apple Tart bikinannya banyak dipuji customer.

Lalu kru dapur, ada si G dan si J. Perjuangan Mbrotje cukup jungkir balik untuk ngajarin dua orang ini sampai bisa masak seperti sekarang. Oya, kalau digabungin inisialnya jadi GJ. Cocok sih karena duo dapur ini emang kadang GJ (Ga Jelas) tingkahnya. Si G ini gayanya selangit, misal pernah nolak pake sepatu seragam karena pengennya pake sepatunya sendiri (yang menurutnya lebih keren). Tiba-tiba pasang profile picture di WAnya lagi sok-sok mantengin laptop di kasir (mungkin biar keliatan keren?). Terus si J, suka bikin Mbrotje kesel karena kemampuan berbahasanya agak minus baik lisan maupun tulisan, misal:

“J, tadi daging udah lu rendem air panas? Suhu airnya berapa derajat?”

“Tiga, pak.”

“????!!!@#@$ Tiga apaan??? Lu yang bener dong kalo ngomong! Tiga doang, Tiga puluh, Tiga ratus…?”

“Ya itu pak, tiga pak.” #masihdenganwajahtakberdosa :p

14890420_538158743040764_6557827223700116627_o
Karyawan resto kecil in action

Biarpun kadang nyebelin dan kadang bikin ngakak, tapi sungguh kami sayang dengan karyawan-karyawan ini. Karena 6 orang ini satu team, maka kami anggap satu kesatuan. Kami nggak pilih kasih. Ndak ada yang paling disayang, semua diperhatikan sama besarnya.

Awalnya aku sempat pesimis, bisakah orang-orang ini bertahan? Mengingat udah banyak karyawan yang keluar masuk, jadi rada trauma dan hilang kepercayaan.

And then it happened. There was one bad, bad night. Waktu itu bukan cuma satu, tapi ada dua rombongan customer yang nyolot, sampai ada yang walk out alias meninggalkan resto sebelum ordernya selesai dibuat. Setelah closing, Mbrotje mengirimkan pesan di WA group yang intinya bilang:

Apa yang terjadi malam ini jangan disesali atau diingat-ingat dengan rasa marah. Tapi harus jadi pelajaran buat kita. Supaya kita lebih baik lagi kedepannya. Bukan cuma resto kecil ini yang lebih baik, tapi kita masing-masing sebagai manusia. Lebih sabar, lebih ikhlas, lebih kerja keras.

“Cocok itu mah pak, 86.” balas si J.

“Siap ndan,” tulis G.

“Insyaallah L mau belajar biar lebih baik, pak.”

Dan entah kebetulan atau tidak, 6 orang yang melalui malam “sulit” itu adalah 6 orang yang bertahan. Sampai sekarang.

Gak terhitung berapa kali customer nyolot di depan hidung mereka, berapa kali mereka didamprat bos. Tapi besoknya mereka tetap nongol sebelum resto buka, ngepel-nyapu dan persiapan lainnya.

Kalau nggak ada mereka, gak mungkin resto kecil bisa bertahan sampai hampir setahun. Kami banyak terbantu dengan keberadaan mereka.

Nah sekarang pertanyaannya, gimana kami menunjukkan tanda sayang ke karyawan? Tanda sayang yang adil dan sama rata? (kalau insentif/ bonus tentunya ada berdasar prestasi masing-masing ya, jadi nominalnya berbeda).

“Nanti habis lebaran, aku mau ngajak anak-anak REKREASI,” kata Mbrotje suatu waktu.

Aha! Rekreasi! Itulah jawabannya #tabuhgendangdengansemangat

Supaya adil tentu semuanya kami ajak rekreasi ke tempat yang sama, naik mobil yang sama, seru dan hepi-hepian barengan lah!

Selain tanda sayang dan sarana refreshing, manfaat rekreasi karyawan lainnya adalah:

  1. Team building. Selama jalan-jalan mereka bisa ngobrol akrab dan mendekatkan diri secara personal. Bisa diadakan games/ permainan untuk mengakrabkan karyawan.
  2. Memberi karyawan benefit/ keuntungan yang gak bisa diukur dengan materi. Yang seru dari rekreasi adalah momen dan kebersamaan, apalagi untuk mereka-mereka ini yang jarang jalan-jalan. Ada lho karyawan kita yang ke Ancol aja belum pernah.
  3. Mengajarkan manfaat menabung untuk karyawan. Selama ini uang tips dari customer dan uang service kami sepakati agar ditabung, untuk kas bersama. Sekarang kas sudah terkumpul cukup banyak, jika ditunggu 2-3 bulan lagi bisa deh untuk pergi-pergi ke tujuan wisata yang dekat dengan Jakarta.

Terakhir kami ajak anak-anak rekreasi adalah bulan Oktober 2016, itupun kami cuma mampu membawa mereka ke tempat pemancingan di daerah Sawangan, Depok. Hiks, kere bener…. (waktu itu belum ada inisiatif untuk bikin kas bersama).

retreat
Rekreasi pertama ya ini, ke pemancingan di Sawangan bulan Oktober. Setelah ini belum pernah pergi lagi, hiks

Kali ini, karena sudah ada tabungan, inginnya rekreasi karyawan yang lebih jauh, lebih seru, lebih hepi. Tapi tetap kami harus cermat memperhitungkan pengeluaran. Kalau ada diskonan atau alternatif yang menawarkan paket hemat, kenapa enggak? Salah satu bentuknya tentu voucher liburan. Pastinya lebih hemat untuk rombongan, kan? Nah coba-coba deh nyonya chef ini #KlikCariHepi alias klik sana-sini di Eleveniacari voucher liburan yang sekiranya cocok buat bikin hepi karyawan.

Ternyata Elevenia juga punya voucher liburan!

elevenia_retreat

Di bawah kategori Service/Food, salah satu anak kategorinya adalah “voucher taman hiburan”.

Langsung lah kepikiran karyawan-karyawan resto kecil begitu lihat kategori ini. Emang pas banget sebelum event lomba blog elevenia, keluar celetukan si Mbrotje tadi, yaitu pengen ngadain rekreasi karyawan. Jadilah ketika lihat-lihat delapan topik kategori, mata ini tertuju ke pojok kanan bawah. Kayaknya asyik kalau kita coba telusuri. Ada penawaran apa aja sih?

Wih.. ternyata kebanyakan paketnya untuk tujuan wisata ke luar negeri. Ada yang ke Legoland Malaysia, Madame Tussauds Singapore, sampai voucher naik kereta cepat/ Rail Pass untuk di Jepang. Banyak paket yang cocok untuk liburan keluarga terutama yang bawa anak-anak. Jadi pengen merencanakan liburan keluarga, hihihi… Wis lah. Cukup siwernya, mari mengembalikan fokus ke karyawan-karyawan tersayang.

Tempat wisatanya juga kami pilih yang cocok buat dewasa umur 20an, bukan tujuan untuk wisata anak-anak seperti renang-renangan di Waterpark, hehe. Sebenarnya tergoda banget dengan paket wisata Watersport di Bali, tapiiii…… buat ke Jogja aja kasnya belum nyampe (mudah-mudahan tahun depan, amien!)

Akhirnya opsi jatuh pada:

  1. Rafting 6 KM selama 1,5 jam di Sungai Citarik, Sukabumi . Sudah termasuk peralatan rafting, guide, asuransi, sertifikat, minuman dan makan siang, fasilitas air panas dan toilet. Team rescue juga disediakan (penting banget!) dan ada games juga. Reservasi untuk weekdays minimal 4 orang, wah masuk nih karena kami ada lebih dari 6 orang.
  2. Voucher ke Ancol: voucher tiket Gondola senilai Rp. 60.000 berlaku all day dan voucher ke Alive Museum (museum baru nih, isinya patung lilin kayak Madame Tussauds) senilai Rp. 100.000 berlaku weekdays. Voucher Gondola jatuhnya 33.000 saja dan untuk Alive Museum jadi 57.000. Lumayan kan potongannya?
  3. Paket outbound di Taman Budaya Sentul. Mulai 71 ribuan aja lho, dengan game high rope dan flying fox. Masih cocok lah buat orang-orang umur 20an, hehe.

Selebihnya, pilihan paket wisata seputar Jabodetabek yang ada cocoknya buat anak atau wisata keluarga. Jadi, pilihannya agak terbatas buat company outing. Semoga kedepannya makin banyak pilihan voucher taman hiburan di Elevenia yang cocok buat kami-kami pemilik usaha kecil, yang ingin #KlikCariHepi buat nyenengin karyawan dengan budget terbatas. 😉

Oya, satu lagi yang menarik perhatian adalah tulisan Mokado yang muncul di pojok kanan atas ilustrasi voucher. Apaan sih Mokado?

mokado

Ternyata, Mokado adalah salah satu layanan dari Elevenia yang merupakan singkatan dari “Aneka Voucher Mobile Kado.” (lengkapnya bisa dibaca di salah satu postingan blog elevenia berikut ini). Mokado adalah segala voucher diskon, gak cuma paket liburan aja lho. Mulai dari voucher belanja, perawatan tubuh sampai kupon diskon untuk makan di restoran ternama, intinya voucher untuk menyenangkan dan memanjakan diri :D

Spesialnya, kita bisa hadiahkan voucher ini untuk orang tersayang. Tulis data penerima lalu kita kasih pesan personal. Ide bagus ya, kasih kado dalam bentuk voucher diskon. Daripada beliin barang tapi gak kepake kan sayang duitnya.

SBD-posterflyer-Mokado-02

Setuju banget dengan idenya Mokado ini. Jadi, hadiah buat orang tersayang belum tentu mesti berbentuk barang atau materi. Voucher diskon adalah cara paling pas untuk bilang ke orang tersayang, “pergi rekreasi sana! Seneng-senengin dirimu.” Kita memberikan voucher diskon sebagai tanda sayang, karena ingin mengatakan kepadanya:

“Hey, you deserve this! Kamu layak memanjakan diri setelah bekerja keras!”

Jadi, kalau menang lomba blog ini, aku ingin menghadiahkannya buat karyawan-karyawan yang sudah bekerja keras menggawangi resto kecil. Biarpun kemungkinan besar aku sendiri gak ikutan karena sebenarnya bukan termasuk team operasional, he he. Toh, rekreasi ini bukan buat aku ataupun Mbrotje, tapi benar-benar bentuk perhatian kami buat mereka. Biar merasa dihargai, merasa disayangi, merasa mendapat reward – yang bukan dalam bentuk materi – sebagai upah kerja selama ini.

Karena tanda terima kasih ke karyawan haruslah lebih dari sekedar gaji, ya kan?

Kiss kiss,

Mbak Nez alias Nyonyah Chef

Catatan dari resto kecil

Tentang “resto kecil” dan blog ini

Beberapa bulan lalu blogku sempat kukasih judul “Catatan dari Resto Kecil.” Sekarang judul sudah kuhilangkan. Lha, ada apa dengan resto kecil – yang berinisial MC ini?

Gak kenapa-kenapa. Si resto masih ada dan berjalan seperti biasa. Tapi, kuputuskan untuk ganti judul supaya jelas jika blog ini ndak pernah dimaksudkan untuk mewakili MC, sejak 2010 sampai selamanya Hello,Nez! adalah blog pribadiku. Kalopun aku nulis soal MC, yg aku share adalah sudut pandangku pribadi, tidak mewakili opini MC sebagai badan usaha.

Kenapa aku ga mau blogku (dan aku sendiri) muncul seolah-olah perwakilan MC? Pertama, karena MC bukan milikku. Ia dimiliki secara rekanan, yang terdiri dari tiga orang: sebut saja si A yang seorang investor, si B alias Mbrotje, dan si C teman mereka berdua yang bertugas mengawasi keuangan*. Lalu, jika selama ini (terutama saat awal kami buka resto dan masih kurang staff) aku bantu-bantu urusan resto, itu karena aku membantu Mbrotje. Bukan bekerja untuk MC. Beda, ya. Dan itulah alasan kedua kenapa aku nggak mau blog ini kesannya “membawa bendera” MC atau dianggap mewakili MC. Ketiga, Hello, Nez! ya miliknya Neysa, seorang blogger dan tukang nulis yang punya identitas sendiri. Aku nggak mau terlalu dianggap macam Lucy-nya Afit “Holycow” or Nilam-nya Hendy “Baba Rafi”. MC bukan usaha kuliner suami-istri seperti kebab Baba Rafi atau Steak Holycow. Jelas, ya?

Khusus mbak Nilam-mas Hendy “Baba Rafi”, sebenarnya aku lagi sedih mendengar kabar mereka. Mbak dan mas ini salah satu inspirasiku, lho. Merintis usaha kebab dari nol di tahun 2004, dari mulai uji coba resep, belanja, berdagang dengan gerobak di pinggir jalan dilakoni berdua. Gagal dan kere dilakoni berdua. Sampai akhirnya Baba Rafi jadi nama besar, dan mereka berdua muncul sebagai motivator, contoh suami-istri pebisnis yang kompak dan sukses.

Teringat di salah satu blog, ada cerita mbak Nilam tentang masa susahnya. Suatu malam, hujan deras dan kebabnya sepi pembeli. Kemudian mereka berdua memutuskan uang hasil jualan dibelikan makan malam lauk seafood di tenda sebelah gerobaknya buat menghibur diri. Ternyata beli lauk ini malah lebih mahal daripada uang hasil jualan, jadilah mereka nombok dan malah rugi. Tapi itu semua diceritakan dengan senyum dan tawa… Seolah ikhlas udah melalui masa pahit berdua.

Tapi, kita mana pernah tahu isi kulit orang ya, adanya tahu isi tauge sama tahu isi petis. Eh salah :P Maksudku kita-kita penonton ini ga pernah ngerti cerita sebenarnya, ngertinya dari luar semua baik dan indah.

Ujug-ujug, bulan lalu merebak kabar kalau mbak Nilam dan mas Hendy ternyata sudah bercerai karena perkawinan mereka sebenarnya sudah bobrok sejak beberapa tahun terakhir. Masalah KDRT, perempuan lain, sakit hati, ketidak adilan dan ntah apa lagi :(

Aku rasa mbak Nilam segitu sakit hatinya karena dia sudah berjuang keras membesarkan nama Baba Rafi, tapi pada akhirnya suami dianggap tidak menghargainya. Seperti ditulisnya sendiri di FB: dia bekerja keras sampai sakit-sakitan, terjun langsung mengurusi manajemen dan operasional, bahkan mengucurkan dana pribadi untuk membantu suaminya. Hingga akhirnya, tanpa sadar semuanya udah nggak sinkron lagi… Suami-istri yang tadinya kompak, ternyata sudah berjalan sendiri-sendiri.

Inilah resiko suami-istri yang menjalankan usaha bersama. Karenanya aku dan Mbrotje tidak pernah menganggap diri kami rekan bisnis. Mbrotje tahu diri tiap kali meminta bantuanku, dia selalu apresiasi dan berterima kasih. Sebaliknya, semua sumbangan pemikiran dan tenagaku juga sudah kuikhlaskan, gak akan aku ungkit-ungkit lagi. Seperti yang kubilang, aku membantu suamiku. Tidak ada niatan mencari panggung untuk diriku sendiri. 

Selain tenaga dan ide-ide untuk MC, yang terpenting kehadiranku adalah sebagai supporter, penasehat dan tempat curhat bagi Mbrotje yang kerja keras menjalankan operasional. Tanggung jawab saya adalah sebagai istri yang mengingatkan dia agar jalur-jalur masuknya rejeki di MC adalah melalui pintu yang halal dan berkah. Ini karena hasil MC nggak cuma kami yg menikmati. Dana yang ada juga dipertanggung jawabkan buat si A dan si C, lalu karyawan-karyawan yang unyu-unyu dan sifatnya penuh warna itu, hehe. MC bertanggung jawab atas kehalalan rejeki yang dinikmati SEMUA pihak yang bernaung di bawahnya, dan itu tanggung jawab yang luar biasa besar. Dunia akhirat.

IMG_20170210_181438_HDR
Team yang menangani sosmed MC

IMG_20170203_155412_HDR

Oya perkara sosmed, sudah lama aku tidak mengurusi sosmednya MC lagi. Sudah ada tim beranggotakan anak-anak muda umur 20-an awal *uhuk* *kemudian berasa tua T_T* yang dedicated untuk bikin design, foto-foto ciamik, dan teks buat IG dan FB. Lebih baik memang mendelegasikan tugas ke pihak-pihak yang mau meluangkan waktu 100%, supaya hasilnya juga lebih efektif. Alhamdulillah sekarang konten lebih ramai dan followers juga nambah secara signifikan.

Semoga kedepannya semua lebih baik lagi. Harapanku pribadi, apapun takdir Allah bagi MC – mau sebesar Holycow or Baba Rafi kek, mau jadi bintang lokal aja di Bintaro kek – nggak ada individu yang lantas merasa paling hebat, paling bekerja keras, paling berkorban tenaga maupun dana – nggak ada! Saling menghormati, memberi apresiasi dan menghargai kedudukan semua pihak… itu penting.

Demikianlah kiranya uneg-uneg pagi ini aku cukupkan ;)
Salam lemper – eh, cheeseburger :D,

Mbak Nez.

*) Nama-nama owner lainnya sengaja di samarkan ya. Kalo suatu hari mereka perlu go public lebih baik lewat statement resmi dari MC aja :)