Catatan dari resto kecil

Bagaimana melunakkan hati orang tua sebelum melangkah berbisnis kuliner (dan sedikit tentang Post-Power Syndrome)

Untitled
percakapan dengan ibu mertua dalam bahasa indonesia campur jawa

“Mbak, dulu orang tua setuju gak sih, kalo mas Ari berhenti jadi pegawai dan malah bisnis kuliner?” Ahaaaa, pertanyaan menarik ya gaesss… dan jawabannya adalah…..

Well, sebelum masuk ke jawaban ada baiknya cerita-ceriti sedikit dulu tentang kabar resto kecil yang terbaru.

Jadi, alhamdulillah kami udah punya dua outlet sekarang. Semua masih di Bintaro. Outlet lama di sektor 2 masih ada, dan sekarang nambah sektor 7. Jangan dianggap mentereng dan keren dulu. Outlet nambah, artinya investor dan pemegang saham nambah, pusingnya juga nambah. Tapi biarlah curcolan itu untuk lain kali aja ya. Kali ini mau membahas sisi positifnya aja dari usaha yang makin berkembang.

Sisi positifnya adalah bisa membuktikan ke orang tua (yang dulunya ragu dengan langkah anak-anaknya berwiraswasta), bahwa kami mampu. Dan kami bertahan.

Karena awal-awal dulu susah lo meyakinkan mereka atas keputusan ini. Kebetulan kalau orang tuaku sendiri juga berwiraswasta (setelah bapak pensiun jadi pegawai negeri), jadi mencari dukungan dari mereka jauh lebih mudah (walau tetap ada dramanya sedikiiiiit). Tapi yang lebih menarik dibahas dan lebih bikin emosi naik-turun adalah reaksi dari mertua.

Post-power syndrome

 

Background bapak mertua sama seperti bapakku, pegawai negeri struktural (bekerja di departemen/ kementrian). Bedanya, karena satu dan lain hal, bapak mertua memutuskan mundur dari kementriannya (beliau dulu di Kementerian Pekerjaan Umum), lalu pindah jadi dosen alias pegawai negeri fungsional sejak tahun 2004. Sedangkan bapakku menjabat hingga selesai masa jabatan (2012) dan pensiun dari departemennya (beliau di Kementerian Agraria).

file_1489491552

Setelah menjadi dosen, tentu keadaan keuangan jauh berubah. Aneka privilege berupa: bepergian gratis untuk urusan dinas, memiliki anak buah dan pesuruh, supir kantor, kendaraan dinas; semua menghilang. Itu terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu dan sayangnya bapak serta ibu mertua tidak bisa melalui proses adaptasi dengan mulus. Walhasil efeknya masih tersisa sampai sekarang. Mereka berdua cenderung menujukkan ciri-ciri yang sama: mengidap Post-Power Syndrome. Ini juga menjangkiti bapakku sendiri setelah pensiun.

Post power syndrome biasanya muncul setelah orang kehilangan kekuasaan atau jabatan, diikuti dengan harga diri yang menurun. Akibatnya, ia […] lebih mudah tersinggung dan curiga.

[…] ini sering dikaitkan dengan masalah emosional seperti melakukan agresivitas verbal, marah-marah, gampang tersinggung dan tidak bisa dikritik. Bisa juga rasa curiga dan tersinggung muncul ketika saran atau pendapatnya tidak dijalankan.

Selain itu orang yang mengalami post power syndrome juga menjadi suka ikut campur dan mengatur secara berlebihan hal-hal di sekitarnya yang bahkan bukan menjadi tanggung jawab ataupun urusannya dan tidak diminta.

Ikutan bingung

Lalu apa hubungan post-power syndrome dan reaksi mertua akan keputusan kami berbisnis kuliner? Ada dong. Karena manifestasi post-power syndrome ini nampak dari reaksi mereka.

Ibu, memiliki kecenderungan seperti ciri yang saya kutip di atas: suka mengatur secara berlebihan. Sedangkan bapak, kecenderungannya jadi tidak menapak pada kenyataan. Bapak, di awal resto kecil buka dulu, punya harapan-harapan yang tidak masuk akal.

Awal resto buka dulu, bapak sangat mendukung. Bahkan beliau dengan bangga ikut promosi restoran ke grup keluarga besar, juga ikut kasih ide nama restoran… benar-benar aktif ikut diskusi masalah restoran di grup keluarga. Padahal beliau ini yang dulu ngotot mengirim si Mbrotje kuliah teknik di Belanda supaya jadi insinyur seperti beliau, jadi awalnya kami pikir kalo si Mbrotje “banting setir” beliau bakal menentang keras. Ketika dijelaskan visi misi ke depan dan impian kami bahwa resto kecil akan buka cabang atau di-franchise kan, dan memberi contoh menu serta harga-harga makanan kami yang dirasa cukup oke untuk menyasar orang-orang Bintaro…. kelihatan sekali bapak berbinar penuh harap. Apalagi ketika menginjak bulan kedua, restoran mulai ramai dan kadang full house saat weekend.

(Spoiler: ternyata harapan ini-lah yang kemudian akan jadi sumber drama, baca terus ya… Hehe).

Sedangkan ibu, bereaksi sesuai dugaan kami: cenderung menentang. Wiraswasta artinya pemasukan tak menentu dan bagi ibu hal ini merupakan ketakutan besar. Manifestasinya, beliau jadi over khawatiran dan ikut mengatur hal-hal detil. Tiap malam beliau ngirim WA, dan selalu pas sekitar jam tutup restoran. Segala remeh-temeh di cek oleh beliau.

Dino iki omsete piro? (translated: hari ini omsetnya berapa)

Uangnya udah disimpen? Disimpen di mana?

Yang pegang uang karyawan? Siapa? Bisa dipercaya?

Laci tempat uang ada kuncinya?

Bikinin kunci ganda, udah?

Pasang cctv, udah?

Pager resto udah digembok?

Kami hanya sabar aja, menjawab semua pertanyaan ibu dan keingin tahuan beliau sebisa mungkin…. Sampai pada satu waktu kami (terpaksa) harus cerita kalau pemasukan kami satu-satunya adalah gaji dari resto, yang “cuma” sebesar 2,5 juta. Walhasil, ibu mertua bingung dan ternyata, eeeh…. diceritakanlah hal ihwal hidup prihatin kami ini ke bapak mertua.

Lalu ting! Muncul WA dari bapak mertua (yang persisnya redaksinya gimana saya udah lupa, tapi intinya seperti ini):

Bagaimana ini?? Ibu cerita tentang keadaanmu. Kok kamu cuma ambil gaji 2,5 juta dari restoran per bulannya? Bapak ndak setuju kamu menjalankan restoran kalau seperti itu. Bukannya ini sudah 4 bulan berjalan, kan seharusnya tiap malam sudah ada 10 meja di restoranmu, jika tiap meja bayar 200.000 kan penghasilanmu 2 juta per malam artinya dalam seminggu 14 juta dan sebulan 64 juta. Sedangkan untuk gaji karyawan dan belanja bahan berapa, toh nggak ada separonya?

Artinya kamu seharusnya sudah bisa dapat uang sekitar 40 juta tiap bulan, dong?

Lebih terbuka tentang hal-hal nggak enak

Waktu itu, aku dan Mbrotje cuma bisa garuk-garuk kepala yang gak gatal. Kami bener-bener kaget. Sadarkah bapak, jika hitung-hitungan dan harapan beliau ini nggak masuk akal (untuk waktu yang sesingkat hitungan bulan)?

Kemudian kami flashback, dan menyadari sesuatu… Ooh! Mungkin bapak menaruh harapan yang terlalu tinggi pada kami. Pada saat kami menjelaskan visi misi restoran, dan impian kami bahwa restoran akan begini dan begitu… bapak berharap itu bisa langsung terwujud dalam hitungan bulan. Beliau tidak tahu, ada proses panjaaaaang dan mungkin bertahun-tahun yang harus kami lalui sebelum semua impian buka cabang itu terwujud (bahkan in the end ada resiko itu semua tak terwujud).

Nah mungkin inilah wujud post-power syndromenya beliau ya: suka bicara (dan berharap) terlalu tinggi. Beliau pikir, 3-4 bulan bisa langsung terasa hasilnya. Ternyata bapak selama ini tidak menapak di tanah… tidak menapak pada kenyataan. Beliau tak sadar, ada resiko usaha bisa gagal. Karena post-power syndrome nya ini membuat beliau menapak di langit penuh impian.

Bukannya restoran sudah mulai ramai? Tanya beliau.

Alhamdulillah iya pak, tapi ramai itu kan ndak setiap hari. Di hari-hari yang sepi kita tetap buka tapi listrik, air, gas, bahan baku semua tetap terpakai… itu kan berarti biaya operasional tetap berjalan. Pemasukan dari hari yang ramai itu untuk menutup biaya operasional di hari yang sepi. Kami menjelaskan pelan-pelan.

Bapak muram. Rupanya, beliau baru sadar bahwa menjalankan restoran itu sulit. Selama ini beliau mendukung, bahkan berbangga, semuanya karena berharap kami bisa memetik sukses dengan cepat.

Setelah kejadian itu, kami jadi lebih terbuka tentang susah-susahnya operasional restoran. Tentang customer yang marah-marah, atau pegawai yang mencuri daging. Suatu ketika kami memberi link ke zomato, dan beliau membaca sendiri review-review resto kecil dari yang bagus, netral sampai yang jelek. Di zomato ada yang nulis kalau steaknya keras, bagaimana itu??? Kami cuma bisa tersenyum, menjelaskan jika hal ini sudah ditangani dengan baik. Kali lain, ketika bapak kami ajak ke resto kecil… pas banget di depan mata beliau ada customer yang marah-marah. Wajah bapak pada waktu itu benar-benar kebingungan. Bagaimana kejadian tadi itu, orangnya sampai marah karena pesanannya terlalu lama dimasak? Desak beliau dengan panik. Ya pak, bagaimana lagi? Kita masih banyak kendala dengan alat-alat dapur, doakan saja semoga bisa diperbaiki.

Lagi-lagi bapak terdiam. Entahlah, kami hanya berdoa semoga dengan jujur mengenai kesulitan kami, tidak menambah pikiran bapak.

Sekarang….

2 tahun sudah berlalu sejak “drama” itu, dan ibu mertua masih rajin mengirim WA setiap malam. Sekedar ingin tahu, berapa besar omset malam itu. Lalu mengingatkan kami akan hal-hal detil yang sebenarnya, tanpa beliau ingatkan pun, sudah pasti kami lakukan. Kami cuma bisa senyum dan menjawab dengan sabar dan santun. Sudahlah, hanya tanda sayang seorang ibu yang terlalu besar rasa khawatirnya.

Tapi setiap kali beliau ke Jakarta, kami selalu mengajak beliau makan di resto kecil. Kebetulan jika kesini pas weekend, jadi pas banget lagi rame. Beliau bisa melihat sendiri hiruk-pikuk restoran dan teamwork karyawan kami, juga kami jelaskan siapa saja karyawan yang sekarang ada. Alhamdulillah dengan berbagi cerita-cerita kecil seperti itu, bisa menentramkan hati beliau untuk ridho dengan pilihan kami berbisnis kuliner.

Sedangkan bapak mertua, ketika pembukaan cabang kedua beliau tiba-tiba ingin datang ke Jakarta. Beliau alhamdulillah masih menunjukkan support, meskipun kami pernah bercerita tentang kesulitan-kesulitan dalam menjalankan restoran.

Jadi tips kami, untuk kalian yang ingin berwiraswasta tapi bingung bagaimana melunakkan hati orang tua: berceritalah apa adanya, realistis saja. Ajak mereka untuk sama-sama mengerti apa resiko yang sedang kalian hadapi.

InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja. You can do it!

 

Advertisements
Marriage (and parenting)

Dear husband (or everyone else), you should know… we mommies don’t always get it right

Permisi ya, buibu. Tapi saya lagi butuh laundry. Maksudnya, me-laundry keruwetan yang ada di isi kepala ini dengan cara menulis, hehe.

Saya lagi jengah bersosmed. Kepikiran buat break aja. Soalnya di sosmed sekarang ini kenapa ya hampir semua ibu-ibu seolah jadi “picture perfect” mom/ wife. Di Instagram ada ibu-ibu yang suka ngepost resep MPASI dan rajiiin banget bikin planning menu MPASI anaknya, ada ibu-ibu home decorator yang laundry room nya aja dikasih tanaman-tanaman monstera kek apa kek (the fact bahwa mereka punya sesuatu bernama “laundry room/ laundry corner” itu aja udah bikin saya ternganga) , belum lagi yang rajin foto-foto masakannya setiaaaaap hari.

Di facebook sih same old ya, ibu-ibu yang suka ngepost saran-saran parenting. Yang demen mencatat pembelajaran sehari-hari dari ngopeni anak-anak mereka.  Meskipun di balik embel-embel ” saya juga lagi belajar kok” “saya ini bukan apa-apa”, tapi kan teteuuup yaa… “masih belajaran” aja kok bisa wise begituuuuuhhh… Apalagi kalo udah ngelihat ke mommies blogger yang diundang event “Ibu Pintar” “Ibu Smart” atau apalah apa. Maklum, isi friend list saya kebanyakan memang orang-orang dalam lingkaran pertemanan mommies blogger.

Postingan kayak begitu, biasanya bikin saya makin merasa worthless.

Apalah saya ini ya??? Cuma remahan Koko Krunch yang melempem dan disia-siakan setelah semua Koko Krunch yang masih krius-krius habis. Remahan yang biasanya dibejek-bejek anakku bersama sisa susu…. “Mik ini ga enak, udah buat ummi aja” dan kemudian Umminya akan dengan senang hati ngelokop alias meminum dengan brutal sisa susu penuh bejek-bejekan koko krunch yang melempem itu. Wkwkwkwk. Talk about guilty pleasure.

Entahlah ya? Maybe it’s my own problem. Tapi saya sendiri selalu menghindari yang namanya memberikan parenting tips. Atau menceritakan hal-hal “indah” dan milestones yang dilakukan anak-anak saya. Pencapaian kecil sehari-hari tentu ada, tapi saya ga perlu merasa bangga. Saya berusaha untuk mikir: bahwa itu biasa aja. Nothing worth to share. Terlebih saya orang yang introvert dan sangat menjaga privacy ya, jadi ngepost foto or kegiatan anak-anak saya di instagram/ instastory is a big NO – NO untuk saya. Apalagi dibikin LIVE. Hadooooh…. penting taaaaaah?

28753624_460901680993963_1461887312848748544_n.jpg

Well unless of course jika saya DIMINTA sharing parenting advice.

Gak mungkin dong ya, mau mengelak.

Tapi jujur aja nih, benernya kalau ada pertanyaan “dulu anakmu pernah begini gak sih? Gimana cara kamu menghadapinya?” Saya biasanya bingung menjawabnya.  I mean,

You sure you’re asking ME??

I didn’t always get it right.

My method, I think, SUCKED.

You think I KNOW WHAT I’M DOING?

Kapan hari, ada teman yang curhat bahwa anaknya lagi suka tantrum. Saya, 100% aware bahwa sesi curhat ini mungkin berujung dia minta advice (atau sayanya kegatelan pengen kasih advice), berusaha membelokkan pembicaraan… supaya saya ga jadi pakar parenting dalam pembicaraan ini.

Saya cuma bilang, sekarang anak-anak saya sudah nggak tantrum. Karena mereka sudah bisa bicara dengan benar, bisa mengemukakan keinginan dalam kata-kata. Based on teori yang pernah saya baca loh ya.

Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.  – sumber: keluarga.com

Saya cuma bilang ke dia,

Bahwa setelah anak-anak pinter ngomong, mereka gak akan tantrum lagi. Tapi challenge-nya akan LEBIH GEDE lagi.  

Kalau sekarang perkara tantrum aja lu orang udah pusing, oooooh wait for it. You think tantrum is the biggest deal??? OOH JUST WAIT. Here comes something worse! Ngahahaha. –> tapi yang ini ga saya ucapin, cukup dalam hati aja. Saya ga sefrontal itu , pssst.

Tantrum, akan usai seiring dengan kemampuan bicara mereka yang makin baik. Tapi nanti mereka akan banyak BERTANYA. Dan pertanyaan-pertanyaan itu kadang bikin skakmat orang yang ditanya.

“Kenapa manusia meninggal? Setelah meninggal nanti kita bangun lagi gak? Apa itu surga?” Bah… rasanya pengen manggil guru agamaku pas SD yang sabaar dan lucu banget, pak Edi.

“Capung itu apa? Binatang itu apa? Serangga itu apa? Capung rumahnya dimana? Telor lalat kayak apa? Mi ayo tunjukkin foto telor lalat di internet”. Bhaaah… rasanya pengen manggil guru biologiku waktu SMA, pak Teddy. And seriously kid, ummi mu ini mbok suruh nggoogle gambar BELATUNG???? Tidaaaaaaak!!!!

Mereka sudah bisa MEMINTA.

Minta dibeliin mainan. Dengan kalimat yang tegas sejelas-jelasnya, bukan meraung-raung di alfamart lagi, dan itu lebih bikin darah naik. “Ih Ummi pelit gak mau beliin aku ini!!!!!” di depan mbak kasir yang senyum-senyum (mungkin mengasihaniku, wkwkwk). Dan terutama udah bisa request masakan ini-itu ke umminya yang sebenernya ga betah di dapur. “Mi, donat ada? Mi, bikinin tahu krispi dong? Mi, ummi gak masak pudding coklat? Mi, aku mau kue green tea (ketika nglihat umminya nonton video baking).” Dll…. “MI AKU LAPEEEEEER”…. yang bikin pusyiiiiiiiiiing.

Dan apakah saya ini sabar? Tidaaaaak. Biasanya kalau udah diberondong pertanyaan dan permintaan dari dua bocah lelaki yang ceriwis itu, saya jawabnya tergantung MOOD aja. Kalau lagi bener ya “Nanti, sabar” dengan nada kalem. Kalau lagi capek ya “BENTAR TOOOOO!!!! UMMI GA BISA NGELADENIN SEMUA! SATU-SATUUUU!!!!”

27892840_2040642909516103_973161369329205248_n.jpg

Intinya,

Don’t sugar-talk about parenting, ibunya Kawa (eh).   It is HARD. It is SUPER HARD at the point where my head wants to explode and I just sit in my kitchen counter drinking Susu Kental Manis Frisian Flag Gold straight out of the pouch just to keep me sane. Or you know, Coca-Cola with LOTS of ice at 11 PM. Just because.

Saya akhir-akhir ini lebih suka ngelihat feed yang keeping it real, ya. Dan biasanya itu feed dari luar negeri. ScaryMommy atau Hotmessmoms, misalnya. The Joys of Boys. Atau komik di Instagram “FowlLanguage”. I like folks who don’t sugar-talk. I like those who keep it real.

I super, super HATE celebmoms yang foto-fotonya on point selalu, dengan anak yang tertawa bahagia dan outfitnya ga ada bekas ompolan atau bubur belepotan, dan caption “sekarang ini kalau jalan-jalan sama babyku udah makin ribet yaaa karena dia udah bisa begini begitu…. untung ada [sebut nama produk] yang HELPFUL BANGET.” And that said product cost RIDICULOUSLY EXPENSIVE? WHAT’S REAL ABOUT THAT? GO AWAY.

Nothing is sugary about motherhood yaa, ha ha! Well, welcome to adult life!!!!

28151716_2166723176876366_9204147690223435776_n.jpg
Conclusion…. (and note to husband)

Rant over, yuk deh kembali ke keruwetan sehari-hari. Mau bikin bolu green tea yang ditagihin anakku. Jangan kuatir ntar kufoto yang cantik di sebelah daun monstera dan gelas shabby chic….

Kiss kiss,

Nez.

Tulis-menulis

Choose (+) vibes. Only (+) vibes (dan kabar terbaru dari si Kucing).

Hari Rabu, dan beberapa kabar terbaru.

Kita dikelilingi banyak jenis orang dalam hidup ini. Ada yang menyebarkan vibrasi negatif (-), ada yang positif (+).

Aku punya teman baik yang kalo ketemu sukanya curhat, mencurahkan kekesalan, di telingaku curhatnya dia tuh bernada iwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwi….. nyaring dan penuh penghayatan, hahaha. Macem-macem lah curhatnya dari mulai suami yang rewel sama masakannya, sampe perseteruan sama resepsionis hotel.

Apakah dia orang yang buruk? No, tapi memang “vibration” nya aja negatif seperti itu, orangnya suka (terlalu) jeli, over-critical, yang diomongin hal-hal yang susah duluan daripada yang menyenangkan. Banyak tipe orang yang kayak gini? Buanyakkkk, jeng. Tipe orang yang suka makan nasi duluan dan menyisakan lauk enak untuk dinikmati belakangan, hehe.

Ada lagi nih, tipe orang yang – kalau di mata kuliah Personality Development dulu – seorang yellow hat. Orang yang super duper positif dan kalau di team dia pasti bilang “bisa!” duluan daripada yang lain. Mereka seringnya modal nekad dan spontan. Kalo disodorin proyek yang susah dan berbelit dia akan mikir “gimana caranya supaya bisa dikerjain” atau “aku ga bisa bilang gagal sebelum aku coba”. Si Mbrotje ini tipe yang begini banget :P To-do-list masih segambreng di depan mata padahal udah mepet deadline pun dia masih tenang dan berpikir “dikit lagi, sebenarnya cuma dikit lagi. Pasti bisa.” Padahal sebenarnya dalam hati doi ketar-ketir juga, he he.

Nah, dalam teamwork, saat dua vibrasi ini bertemu kadang memang gak klop jadinya. Susahnya disitu, harus ada penengah atau salah satu pihak mengalah. Di resto kecil, gesekan seperti ini sering terjadi. Ya maklum aja pihak yang berkepentingan ada beberapa dan masing-masing punya vibrasi sendiri. Disini, ego yang berperan besar. Kalau ada team member yang egonya besar, dia tidak akan pernah memberi ruang di hatinya untuk berusaha memahami pihak lain. Namanya manusia, ego kadang naik-turun ya… Di situlah drama terjadi.

Selama resto kecil berjalan, gak mungkin lah kalau ga pernah terjadi drama internal. Baik antar owner dan investor, maupun antara manajemen dan karyawan… banyak cerita dan duka yang sudah terjadi. Seperti yang saya tulis di atas, wajarlah gesekan karena personality yang berbeda-beda. Cara mereka menghadapi masalah juga jauh berbeda. Namanya resto pasti ada ajalah rintangannya: supplier ngirim barang jelek, alat dapur rusak, menghadapi customer yang moodnya lagi jelek. Namanya juga kenyataan hidup ya, nggak sepanjang hari matahari bersinar, pelangi melengkung di atas kepala dan turun hujan permen warna-warni dari langit :P #hiperbol

Tapi konflik itu ada untuk dihadapi, bukan sarana bagi kita untuk melarikan diri. Di saat konflik terjadi inilah kita diuji. Kita harus banyak belajar.

Nah, karena suami saya orang yang terbuka, suka curhat ini-itu, saya tahu banyak hal yang selama ini terjadi di balik layar. Some things are nice, some are not so nice.

Awalnya karena masih baperan, saya ikut bingung. Ikut kepikiran. Apapun yang di share suami jadi negative vibration yang mempengaruhi mood. Tapi lama-lama saya belajar untuk lebih tenang. Belajar jadi pendengar yang baik, yang menenangkan. Saya belajar memberi kepercayaan pada suami saya, bahwa dia bisa melalui semua ini. Saya belajar membiarkan suami jatuh pada kegagalan, tapi percaya dia akan belajar agar tak mengulangi kesalahan yang sama. In return, saya mendapat kepercayaan lebih tinggi dari suami. Dia nggak ragu untuk terbuka dan cerita banyak hal.

Dan demikianlah, vibrasi negatif (-) bisa jadi vibrasi positif (+). Well at least itu menurut saya, yah.

—–

Oh, dan ada berita terbaru soal anggota keluarga kami yang berbulu, alias si Kucing.

Beritanya adalah: bahwa dia sudah pergi, alias hilang dari rumah. Hiks. Waktunya “mampir” di keluarga kami sudah habis. Di siang hari tanggal 15 September, dia pergi main keluar rumah seperti biasanya… Dan tak kembali lagi. Dicuri? Tersesat? Entahlah. Yang kami yakin, berhubung dia ini kucing setengah ras dan terlihat menarik, pastinya ada yang memungut dia.

And so, seperti kemunculan si Kucing yang begitu tiba-tiba, perginya dia pun tiba-tiba. Awalnya sedih, sih. Tapi saya meyakini satu hal. Bahwa keluarga kami cuma perantara antara tuannya yang dulu dan tuannya yang sekarang. I would like to believe that wherever he is now, he is safe in a good, loving, new human hands. New human yang menyayangi si Kucing, seperti kita yang sayang padanya saat dulu menemukan dia tersesat dari rumah lamanya.

Daaah, kucing. Makasih dah mampir di keluarga kita… Baik-baik ya sama keluargamu yang selanjutnya.

Kiss kiss,

Ummi kucing (mbak Nez).