Tulis-menulis

The true privilege

IMG_20190306_122234_HDR

Hari ini, 6 Maret 2019, officially adalah hari dimana saya kembali “bekerja”. Jadi, kemarin malam si Mbrotje pulang membawa surprise yang sudah lama dijanjikannya: laptop baru.

So here I am, back blogging. And this is my current “work situation”.

Dapur adalah tempat favorit saya, karena ruangan ini terang. Biasanya kalau siang saya menghabiskan waktu di sini untuk membaca. Ada kanopi fiber yang berfungsi jadi skylight, dan meja makan lipat yang kalau malam buat workshop roti nya si Mbrotje (makanya ada mixer, hehe, dan mixer Kiki alias Kitchen Aid ini terlalu berat untuk digeser jadi biarlah dia menemani saya ngetik). Mejanya saya bersihkan, lalu diberi sedikit sentuhan personal. Ada kartu pos kenangan dari Belanda, lalu foto-foto masa kecil. Satu-satunya foto saya bersama kedua nenek, dan foto saya bersama ibu. Jadilah meja “kerja” saya.

Nggak sih, saya nggak kerja buat perusahaan. Buat diri sendiri aja.

Bahkan mungkin saya bukan bekerja dalam arti sebenarnya (if it means making money).

I just want to remind myself that I love to write. This is my “profession”: I’m a writer.

Dulu pernah baca blog seorang psikolog (jadul banget jaman masih ada multiply, sekarang blognya udah nggak ada), dan dia bilang:

Kalau ngelihat anak yang pinter, dan percaya sama diri sendiri, gue mau cari ibunya. Mau salamin ibunya.

Pas banget, netijen endonesah lagi ribut-ribut masalah Maudy Ayunda yang galau harus memilih antara Stanford dan Harvard untuk S2nya. Saya jadi ingat tulisan si psikolog tadi. Dan ya, saya langsung mikir: bukan Maudynya yang hebat. Tapi ibunya.

This girl Maudy – if you google about her … dia ini difasilitasi dengan baik. She plays flute, guitar, piano. She speaks Spanish, Mandarin and English. Dan masih banyak lagi. Dalam pikiran saya, yang seorang ibu, saya terbayang kerja keras ibunya. Meraba potensi anaknya sejak kecil. Mengenal karakter anaknya. Memberi makan tak hanya lahiriah, tapi batiniah. Lalu membawanya ke tempat yang tepat.

Butuh seorang ibu yang bahagia, untuk bisa maksimal melakukan itu semua!

b9e0f-nahlsurat78

Surat An-Nahl ayat 78: manusia terlahir dengan potensi yang sama. Ya, kita sama-sama lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Pilihan pertama ada di orang tua kita. Mereka-lah yang membuat pilihan-pilihan di awal hidup kita.

Dan pilihan mendasar yang bisa dibuat oleh tiap manusia adalah untuk bersyukur atau tidak bersyukur.

Ketika lahir, kita nggak bisa milih kan? Mau ibu yang kayak apa. Mau lingkungan seperti apa. Duit dan sekolah internesyenel juga ga menjamin kita bakal dikelilingi dengan attitude yang bener. Kasus di Surabaya bulan Januari kemarin, kurang malu-maluin apa coba? Sesama ibu-ibu seteru rebutan parkir sampai akhirnya salah satu ibu menabrak lawannya! Dan disaksikan anaknya yang masih kelas 2 SD, pula. Kejadiannya di sekolah internasional lo. Jelas duit dan posisi nggak menjamin seseorang bisa jadi orang tua yang bener.

Lantas apa yang bisa bikin seseorang jadi bener?

Ya rasa bersyukur. Rasa bahagia. Rasa cukup menjadi diri sendiri. Gak harus punya duit banyak untuk bisa sekolah di British International School kayak Maudy, kok. Jangan fokus disana. Cukup jadi ibu yang percaya diri, agar anaknya juga percaya diri dan bisa maksimal potensinya.

Ada kutipan favorit saya dari Laila Ahmad:

Harta yang berharga dalam hidup adalah punya banyak pilihan. Sayangnya untuk punya banyak pilihan, kita butuh banyak uang.

So I guess that brings us to the second point: money.

Dalam hidup ini, pintar secara akademis itu nggak cukup. Saya pribadi nggak pernah iri dengan orang yang mentereng secara akademis. Yang paling penting adalah mengenal diri sendiri. Percaya diri. Menerima kekurangan dan tahu apa kelebihan kita.

So here I am, getting in touch with myself. And yes, sometimes you need money for that. Suami saya punya pekerjaan yang bisa menghidupi kami, tanpa saya harus ikut bekerja. He’s no billionaire but it’s enough. Dan setelah kami menabung, ada cukup uang untuk bisa beli laptop buat saya di rumah. Gak harus Macbook, kok. Gak harus yang termahal untuk bikin bahagia. Sekedar memberi makan jiwa dengan apa yang jadi kelebihan saya, tanpa menampik bahwa saya masih punya banyak kekurangan. Saya cuma ingin jadi pribadi yang bahagia dan bersyukur, dan percaya diri. When I gain my confidence, I will raise my kids with confidence!

Saya bersyukur memiliki privilege ini. Privilege untuk sekedar berkarya, meski di jalur independen. Meski tulisan saya terkadang niche atau kurang nge-pop. Meski tak menghasilkan uang. Hanya karya untuk membuat diri makin bahagia sebagai seorang ibu, istri, dan wanita.

I may not be crazy rich like Maudy’s mother who can afford the most exclusive education…

But I sure am privileged :)

Catatan dari resto kecil

Bagaimana melunakkan hati orang tua sebelum melangkah berbisnis kuliner (dan sedikit tentang Post-Power Syndrome)

Untitled
percakapan dengan ibu mertua dalam bahasa indonesia campur jawa

“Mbak, dulu orang tua setuju gak sih, kalo mas Ari berhenti jadi pegawai dan malah bisnis kuliner?” Ahaaaa, pertanyaan menarik ya gaesss… dan jawabannya adalah…..

Well, sebelum masuk ke jawaban ada baiknya cerita-ceriti sedikit dulu tentang kabar resto kecil yang terbaru.

Jadi, alhamdulillah kami udah punya dua outlet sekarang. Semua masih di Bintaro. Outlet lama di sektor 2 masih ada, dan sekarang nambah sektor 7. Jangan dianggap mentereng dan keren dulu. Outlet nambah, artinya investor dan pemegang saham nambah, pusingnya juga nambah. Tapi biarlah curcolan itu untuk lain kali aja ya. Kali ini mau membahas sisi positifnya aja dari usaha yang makin berkembang.

Sisi positifnya adalah bisa membuktikan ke orang tua (yang dulunya ragu dengan langkah anak-anaknya berwiraswasta), bahwa kami mampu. Dan kami bertahan.

Karena awal-awal dulu susah lo meyakinkan mereka atas keputusan ini. Kebetulan kalau orang tuaku sendiri juga berwiraswasta (setelah bapak pensiun jadi pegawai negeri), jadi mencari dukungan dari mereka jauh lebih mudah (walau tetap ada dramanya sedikiiiiit). Tapi yang lebih menarik dibahas dan lebih bikin emosi naik-turun adalah reaksi dari mertua.

Post-power syndrome

 

Background bapak mertua sama seperti bapakku, pegawai negeri struktural (bekerja di departemen/ kementrian). Bedanya, karena satu dan lain hal, bapak mertua memutuskan mundur dari kementriannya (beliau dulu di Kementerian Pekerjaan Umum), lalu pindah jadi dosen alias pegawai negeri fungsional sejak tahun 2004. Sedangkan bapakku menjabat hingga selesai masa jabatan (2012) dan pensiun dari departemennya (beliau di Kementerian Agraria).

file_1489491552

Setelah menjadi dosen, tentu keadaan keuangan jauh berubah. Aneka privilege berupa: bepergian gratis untuk urusan dinas, memiliki anak buah dan pesuruh, supir kantor, kendaraan dinas; semua menghilang. Itu terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu dan sayangnya bapak serta ibu mertua tidak bisa melalui proses adaptasi dengan mulus. Walhasil efeknya masih tersisa sampai sekarang. Mereka berdua cenderung menujukkan ciri-ciri yang sama: mengidap Post-Power Syndrome. Ini juga menjangkiti bapakku sendiri setelah pensiun.

Post power syndrome biasanya muncul setelah orang kehilangan kekuasaan atau jabatan, diikuti dengan harga diri yang menurun. Akibatnya, ia […] lebih mudah tersinggung dan curiga.

[…] ini sering dikaitkan dengan masalah emosional seperti melakukan agresivitas verbal, marah-marah, gampang tersinggung dan tidak bisa dikritik. Bisa juga rasa curiga dan tersinggung muncul ketika saran atau pendapatnya tidak dijalankan.

Selain itu orang yang mengalami post power syndrome juga menjadi suka ikut campur dan mengatur secara berlebihan hal-hal di sekitarnya yang bahkan bukan menjadi tanggung jawab ataupun urusannya dan tidak diminta.

Ikutan bingung

Lalu apa hubungan post-power syndrome dan reaksi mertua akan keputusan kami berbisnis kuliner? Ada dong. Karena manifestasi post-power syndrome ini nampak dari reaksi mereka.

Ibu, memiliki kecenderungan seperti ciri yang saya kutip di atas: suka mengatur secara berlebihan. Sedangkan bapak, kecenderungannya jadi tidak menapak pada kenyataan. Bapak, di awal resto kecil buka dulu, punya harapan-harapan yang tidak masuk akal.

Awal resto buka dulu, bapak sangat mendukung. Bahkan beliau dengan bangga ikut promosi restoran ke grup keluarga besar, juga ikut kasih ide nama restoran… benar-benar aktif ikut diskusi masalah restoran di grup keluarga. Padahal beliau ini yang dulu ngotot mengirim si Mbrotje kuliah teknik di Belanda supaya jadi insinyur seperti beliau, jadi awalnya kami pikir kalo si Mbrotje “banting setir” beliau bakal menentang keras. Ketika dijelaskan visi misi ke depan dan impian kami bahwa resto kecil akan buka cabang atau di-franchise kan, dan memberi contoh menu serta harga-harga makanan kami yang dirasa cukup oke untuk menyasar orang-orang Bintaro…. kelihatan sekali bapak berbinar penuh harap. Apalagi ketika menginjak bulan kedua, restoran mulai ramai dan kadang full house saat weekend.

(Spoiler: ternyata harapan ini-lah yang kemudian akan jadi sumber drama, baca terus ya… Hehe).

Sedangkan ibu, bereaksi sesuai dugaan kami: cenderung menentang. Wiraswasta artinya pemasukan tak menentu dan bagi ibu hal ini merupakan ketakutan besar. Manifestasinya, beliau jadi over khawatiran dan ikut mengatur hal-hal detil. Tiap malam beliau ngirim WA, dan selalu pas sekitar jam tutup restoran. Segala remeh-temeh di cek oleh beliau.

Dino iki omsete piro? (translated: hari ini omsetnya berapa)

Uangnya udah disimpen? Disimpen di mana?

Yang pegang uang karyawan? Siapa? Bisa dipercaya?

Laci tempat uang ada kuncinya?

Bikinin kunci ganda, udah?

Pasang cctv, udah?

Pager resto udah digembok?

Kami hanya sabar aja, menjawab semua pertanyaan ibu dan keingin tahuan beliau sebisa mungkin…. Sampai pada satu waktu kami (terpaksa) harus cerita kalau pemasukan kami satu-satunya adalah gaji dari resto, yang “cuma” sebesar 2,5 juta. Walhasil, ibu mertua bingung dan ternyata, eeeh…. diceritakanlah hal ihwal hidup prihatin kami ini ke bapak mertua.

Lalu ting! Muncul WA dari bapak mertua (yang persisnya redaksinya gimana saya udah lupa, tapi intinya seperti ini):

Bagaimana ini?? Ibu cerita tentang keadaanmu. Kok kamu cuma ambil gaji 2,5 juta dari restoran per bulannya? Bapak ndak setuju kamu menjalankan restoran kalau seperti itu. Bukannya ini sudah 4 bulan berjalan, kan seharusnya tiap malam sudah ada 10 meja di restoranmu, jika tiap meja bayar 200.000 kan penghasilanmu 2 juta per malam artinya dalam seminggu 14 juta dan sebulan 64 juta. Sedangkan untuk gaji karyawan dan belanja bahan berapa, toh nggak ada separonya?

Artinya kamu seharusnya sudah bisa dapat uang sekitar 40 juta tiap bulan, dong?

Lebih terbuka tentang hal-hal nggak enak

Waktu itu, aku dan Mbrotje cuma bisa garuk-garuk kepala yang gak gatal. Kami bener-bener kaget. Sadarkah bapak, jika hitung-hitungan dan harapan beliau ini nggak masuk akal (untuk waktu yang sesingkat hitungan bulan)?

Kemudian kami flashback, dan menyadari sesuatu… Ooh! Mungkin bapak menaruh harapan yang terlalu tinggi pada kami. Pada saat kami menjelaskan visi misi restoran, dan impian kami bahwa restoran akan begini dan begitu… bapak berharap itu bisa langsung terwujud dalam hitungan bulan. Beliau tidak tahu, ada proses panjaaaaang dan mungkin bertahun-tahun yang harus kami lalui sebelum semua impian buka cabang itu terwujud (bahkan in the end ada resiko itu semua tak terwujud).

Nah mungkin inilah wujud post-power syndromenya beliau ya: suka bicara (dan berharap) terlalu tinggi. Beliau pikir, 3-4 bulan bisa langsung terasa hasilnya. Ternyata bapak selama ini tidak menapak di tanah… tidak menapak pada kenyataan. Beliau tak sadar, ada resiko usaha bisa gagal. Karena post-power syndrome nya ini membuat beliau menapak di langit penuh impian.

Bukannya restoran sudah mulai ramai? Tanya beliau.

Alhamdulillah iya pak, tapi ramai itu kan ndak setiap hari. Di hari-hari yang sepi kita tetap buka tapi listrik, air, gas, bahan baku semua tetap terpakai… itu kan berarti biaya operasional tetap berjalan. Pemasukan dari hari yang ramai itu untuk menutup biaya operasional di hari yang sepi. Kami menjelaskan pelan-pelan.

Bapak muram. Rupanya, beliau baru sadar bahwa menjalankan restoran itu sulit. Selama ini beliau mendukung, bahkan berbangga, semuanya karena berharap kami bisa memetik sukses dengan cepat.

Setelah kejadian itu, kami jadi lebih terbuka tentang susah-susahnya operasional restoran. Tentang customer yang marah-marah, atau pegawai yang mencuri daging. Suatu ketika kami memberi link ke zomato, dan beliau membaca sendiri review-review resto kecil dari yang bagus, netral sampai yang jelek. Di zomato ada yang nulis kalau steaknya keras, bagaimana itu??? Kami cuma bisa tersenyum, menjelaskan jika hal ini sudah ditangani dengan baik. Kali lain, ketika bapak kami ajak ke resto kecil… pas banget di depan mata beliau ada customer yang marah-marah. Wajah bapak pada waktu itu benar-benar kebingungan. Bagaimana kejadian tadi itu, orangnya sampai marah karena pesanannya terlalu lama dimasak? Desak beliau dengan panik. Ya pak, bagaimana lagi? Kita masih banyak kendala dengan alat-alat dapur, doakan saja semoga bisa diperbaiki.

Lagi-lagi bapak terdiam. Entahlah, kami hanya berdoa semoga dengan jujur mengenai kesulitan kami, tidak menambah pikiran bapak.

Sekarang….

2 tahun sudah berlalu sejak “drama” itu, dan ibu mertua masih rajin mengirim WA setiap malam. Sekedar ingin tahu, berapa besar omset malam itu. Lalu mengingatkan kami akan hal-hal detil yang sebenarnya, tanpa beliau ingatkan pun, sudah pasti kami lakukan. Kami cuma bisa senyum dan menjawab dengan sabar dan santun. Sudahlah, hanya tanda sayang seorang ibu yang terlalu besar rasa khawatirnya.

Tapi setiap kali beliau ke Jakarta, kami selalu mengajak beliau makan di resto kecil. Kebetulan jika kesini pas weekend, jadi pas banget lagi rame. Beliau bisa melihat sendiri hiruk-pikuk restoran dan teamwork karyawan kami, juga kami jelaskan siapa saja karyawan yang sekarang ada. Alhamdulillah dengan berbagi cerita-cerita kecil seperti itu, bisa menentramkan hati beliau untuk ridho dengan pilihan kami berbisnis kuliner.

Sedangkan bapak mertua, ketika pembukaan cabang kedua beliau tiba-tiba ingin datang ke Jakarta. Beliau alhamdulillah masih menunjukkan support, meskipun kami pernah bercerita tentang kesulitan-kesulitan dalam menjalankan restoran.

Jadi tips kami, untuk kalian yang ingin berwiraswasta tapi bingung bagaimana melunakkan hati orang tua: berceritalah apa adanya, realistis saja. Ajak mereka untuk sama-sama mengerti apa resiko yang sedang kalian hadapi.

InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja. You can do it!

 

Marriage (and parenting)

Dear husband (or everyone else), you should know… we mommies don’t always get it right

Permisi ya, buibu. Tapi saya lagi butuh laundry. Maksudnya, me-laundry keruwetan yang ada di isi kepala ini dengan cara menulis, hehe.

Saya lagi jengah bersosmed. Kepikiran buat break aja. Soalnya di sosmed sekarang ini kenapa ya hampir semua ibu-ibu seolah jadi “picture perfect” mom/ wife. Di Instagram ada ibu-ibu yang suka ngepost resep MPASI dan rajiiin banget bikin planning menu MPASI anaknya, ada ibu-ibu home decorator yang laundry room nya aja dikasih tanaman-tanaman monstera kek apa kek (the fact bahwa mereka punya sesuatu bernama “laundry room/ laundry corner” itu aja udah bikin saya ternganga) , belum lagi yang rajin foto-foto masakannya setiaaaaap hari.

Di facebook sih same old ya, ibu-ibu yang suka ngepost saran-saran parenting. Yang demen mencatat pembelajaran sehari-hari dari ngopeni anak-anak mereka.  Meskipun di balik embel-embel ” saya juga lagi belajar kok” “saya ini bukan apa-apa”, tapi kan teteuuup yaa… “masih belajaran” aja kok bisa wise begituuuuuhhh… Apalagi kalo udah ngelihat ke mommies blogger yang diundang event “Ibu Pintar” “Ibu Smart” atau apalah apa. Maklum, isi friend list saya kebanyakan memang orang-orang dalam lingkaran pertemanan mommies blogger.

Postingan kayak begitu, biasanya bikin saya makin merasa worthless.

Apalah saya ini ya??? Cuma remahan Koko Krunch yang melempem dan disia-siakan setelah semua Koko Krunch yang masih krius-krius habis. Remahan yang biasanya dibejek-bejek anakku bersama sisa susu…. “Mik ini ga enak, udah buat ummi aja” dan kemudian Umminya akan dengan senang hati ngelokop alias meminum dengan brutal sisa susu penuh bejek-bejekan koko krunch yang melempem itu. Wkwkwkwk. Talk about guilty pleasure.

Entahlah ya? Maybe it’s my own problem. Tapi saya sendiri selalu menghindari yang namanya memberikan parenting tips. Atau menceritakan hal-hal “indah” dan milestones yang dilakukan anak-anak saya. Pencapaian kecil sehari-hari tentu ada, tapi saya ga perlu merasa bangga. Saya berusaha untuk mikir: bahwa itu biasa aja. Nothing worth to share. Terlebih saya orang yang introvert dan sangat menjaga privacy ya, jadi ngepost foto or kegiatan anak-anak saya di instagram/ instastory is a big NO – NO untuk saya. Apalagi dibikin LIVE. Hadooooh…. penting taaaaaah?

28753624_460901680993963_1461887312848748544_n.jpg

Well unless of course jika saya DIMINTA sharing parenting advice.

Gak mungkin dong ya, mau mengelak.

Tapi jujur aja nih, benernya kalau ada pertanyaan “dulu anakmu pernah begini gak sih? Gimana cara kamu menghadapinya?” Saya biasanya bingung menjawabnya.  I mean,

You sure you’re asking ME??

I didn’t always get it right.

My method, I think, SUCKED.

You think I KNOW WHAT I’M DOING?

Kapan hari, ada teman yang curhat bahwa anaknya lagi suka tantrum. Saya, 100% aware bahwa sesi curhat ini mungkin berujung dia minta advice (atau sayanya kegatelan pengen kasih advice), berusaha membelokkan pembicaraan… supaya saya ga jadi pakar parenting dalam pembicaraan ini.

Saya cuma bilang, sekarang anak-anak saya sudah nggak tantrum. Karena mereka sudah bisa bicara dengan benar, bisa mengemukakan keinginan dalam kata-kata. Based on teori yang pernah saya baca loh ya.

Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.  – sumber: keluarga.com

Saya cuma bilang ke dia,

Bahwa setelah anak-anak pinter ngomong, mereka gak akan tantrum lagi. Tapi challenge-nya akan LEBIH GEDE lagi.  

Kalau sekarang perkara tantrum aja lu orang udah pusing, oooooh wait for it. You think tantrum is the biggest deal??? OOH JUST WAIT. Here comes something worse! Ngahahaha. –> tapi yang ini ga saya ucapin, cukup dalam hati aja. Saya ga sefrontal itu , pssst.

Tantrum, akan usai seiring dengan kemampuan bicara mereka yang makin baik. Tapi nanti mereka akan banyak BERTANYA. Dan pertanyaan-pertanyaan itu kadang bikin skakmat orang yang ditanya.

“Kenapa manusia meninggal? Setelah meninggal nanti kita bangun lagi gak? Apa itu surga?” Bah… rasanya pengen manggil guru agamaku pas SD yang sabaar dan lucu banget, pak Edi.

“Capung itu apa? Binatang itu apa? Serangga itu apa? Capung rumahnya dimana? Telor lalat kayak apa? Mi ayo tunjukkin foto telor lalat di internet”. Bhaaah… rasanya pengen manggil guru biologiku waktu SMA, pak Teddy. And seriously kid, ummi mu ini mbok suruh nggoogle gambar BELATUNG???? Tidaaaaaaak!!!!

Mereka sudah bisa MEMINTA.

Minta dibeliin mainan. Dengan kalimat yang tegas sejelas-jelasnya, bukan meraung-raung di alfamart lagi, dan itu lebih bikin darah naik. “Ih Ummi pelit gak mau beliin aku ini!!!!!” di depan mbak kasir yang senyum-senyum (mungkin mengasihaniku, wkwkwk). Dan terutama udah bisa request masakan ini-itu ke umminya yang sebenernya ga betah di dapur. “Mi, donat ada? Mi, bikinin tahu krispi dong? Mi, ummi gak masak pudding coklat? Mi, aku mau kue green tea (ketika nglihat umminya nonton video baking).” Dll…. “MI AKU LAPEEEEEER”…. yang bikin pusyiiiiiiiiiing.

Dan apakah saya ini sabar? Tidaaaaak. Biasanya kalau udah diberondong pertanyaan dan permintaan dari dua bocah lelaki yang ceriwis itu, saya jawabnya tergantung MOOD aja. Kalau lagi bener ya “Nanti, sabar” dengan nada kalem. Kalau lagi capek ya “BENTAR TOOOOO!!!! UMMI GA BISA NGELADENIN SEMUA! SATU-SATUUUU!!!!”

27892840_2040642909516103_973161369329205248_n.jpg

Intinya,

Don’t sugar-talk about parenting, ibunya Kawa (eh).   It is HARD. It is SUPER HARD at the point where my head wants to explode and I just sit in my kitchen counter drinking Susu Kental Manis Frisian Flag Gold straight out of the pouch just to keep me sane. Or you know, Coca-Cola with LOTS of ice at 11 PM. Just because.

Saya akhir-akhir ini lebih suka ngelihat feed yang keeping it real, ya. Dan biasanya itu feed dari luar negeri. ScaryMommy atau Hotmessmoms, misalnya. The Joys of Boys. Atau komik di Instagram “FowlLanguage”. I like folks who don’t sugar-talk. I like those who keep it real.

I super, super HATE celebmoms yang foto-fotonya on point selalu, dengan anak yang tertawa bahagia dan outfitnya ga ada bekas ompolan atau bubur belepotan, dan caption “sekarang ini kalau jalan-jalan sama babyku udah makin ribet yaaa karena dia udah bisa begini begitu…. untung ada [sebut nama produk] yang HELPFUL BANGET.” And that said product cost RIDICULOUSLY EXPENSIVE? WHAT’S REAL ABOUT THAT? GO AWAY.

Nothing is sugary about motherhood yaa, ha ha! Well, welcome to adult life!!!!

28151716_2166723176876366_9204147690223435776_n.jpg
Conclusion…. (and note to husband)

Rant over, yuk deh kembali ke keruwetan sehari-hari. Mau bikin bolu green tea yang ditagihin anakku. Jangan kuatir ntar kufoto yang cantik di sebelah daun monstera dan gelas shabby chic….

Kiss kiss,

Nez.