Tulis-menulis

Imanku, kekuatanku

Ramadhan 2017, day 5

Aku masih baik-baik aja. Nothing to worry, guys🌷 Hanya sedikit lelah pikiran plus capek fisik juga, maklum hamil tua. FYI hamil di usia 33 tahun itu beda banget dengan hamil di bawah 30 tahun 😢 Sekarang kerasa banget encoknya, sering sakit di tulang selangka, juga pinggul… plus kram kaki. Pernah sekali kram perut. MasyaAllah ternyata kram perut itu suakiiiiiit. 

Anyway.

Beberapa minggu yang lalu di sosmed lagi gaduh soal iman, gara-gara tulisan viral karya remaja bernama Afi. Iman dan agama adalah warisan, katanya. Jadi ngapain berseteru gara-gara iman dan agama? Begitu menurut beliau.

Kemudian ribut bermunculan surat-surat balasan buat Afi. Yang intinya: agama bukan warisan. Sebenarnya tiap manusia sebelum dilahirkan sudah bersaksi di alam arwah bahwa mereka beriman pada Allah. Setelah lahir di dunia barulah jalan hidup dan orang tua nya yang menjadikan ia tetap beriman pada Allah ataukah melenceng.

Aku sendiri jarang menulis atau sharing soal agama di sosmed. Sekali lagi, menurutku sosmed bukan tempat yang tepat. Terlalu keruh, terlalu ramai untuk membahas hal yang sifatnya personal seperti keimanan. Ya, aku punya sikap dan keyakinan tentang agama Islam yang kupeluk. Seandainya aku ini ibunya si Afi, ya mungkin aku akan mengajaknya bicara panjang-lebar. Tapi aku bukan ibunya, bukan orang tua yang bertanggung jawab langsung atasnya. Jadi biarlah keyakinan itu cukup aku yang tahu, karena aku pemimpin bagi diriku sendiri. 

Ingat, tanggung jawab kita yang pertama dan utama adalah kepada diri sendiri. Kemudian keluarga terdekat (anak). Apabila laki-laki yang telah beristri, maka ia bertanggung jawab akan istrinya.

Yang jelas, aku yakin bahwa iman adalah kekuatan kita untuk menjalani hari-hari yang panjang dan berat di dunia ini. 

Ketika aku melihat orang-orang marah-marah di jalan, mengumpat, emosi, berkata-kata kasar, memperlakukan orang lain dengan semena-mena, bermandi egonya sendiri… Aku bukannya sebal. Aku kasihan. Kemana keimanan mereka? Tidakkah mereka percaya bahwa hidup ini cuma sementara? Dan tiap-tiap jiwa bertanggung jawab akan akibat dari perbuatannya sendiri. Jika kata-kata dan perbuatan mereka menyakiti orang lain, akibatnya akan panjang dan merugikan banyak pihak. 

Jadi, tidak akan pernah salah orang yang menahan emosinya.

Tidak akan rugi orang yang ikhlas dan bersabar.

Tidak akan rugi manusia yang bersandar dan berharap hanya pada Allah.

Kita butuh iman karena itulah satu-satunya pegangan yang abadi. Ga ada yang mampu menolong kita selain diri kita sendiri dan keimanan kita terhadap Allah. Ingat: kita terlahir sendiri, dan sesungguhnya kelak akan menempuh kematian sendirian. Kematian adalah rahasia besar yang tak seorangpun tahu. Seperti apa rasanya dijemput ajal? Sakitkah? Tak ada yang bisa menjawabnya kecuali mereka yang telah mendahului kita. Which is, gak mungkin lah ya kita bertanya pada roh-roh yang sudah “berangkat” 😉

Jadi, ngapain kita ikut ribut di sosmed perkara iman.

Iman adalah kekuatan kita. 

Keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani diluar kesanggupan kita (Al Baqarah: 286) itulah iman.

Optimisme untuk terus berjuang, untuk tetap kuat dan bertahan, adalah buah dari iman.

Jadi, ngapain kita ribut perkara iman? 😉

Selamat berpuasa, teman-teman ❤

Tulis-menulis

Ya Allah, boleh ya aku lelah?

Ramadhan 2017, hari ke-3…

Sebenarnya aku ini bukan tipe orang yang suka berkeluh-kesah.

Mau sakit, berat, susah, apapun pada prinsipnya aku jalani dengan senang hati. Istilahnya, aku ini cewek “low maintenance” alias ga punya syarat hidup yang muluk-muluk, kalau merujuk ke tulisan viral-nya bang Adithya Mulya soal syarat hidup.

Tahun pertama merantau, aku tinggal di asrama mahasiswa yang kumuh dan murah. Bukannya ga mampu bayar sewa asrama yang bagusan, bukan. Aslinya aku dapat tipe kamar asrama termahal waktu itu (sewanya 375 euro/ bln). Tapi, aku sengaja downgrade ke tipe termurah (210 euro/ bln). Sebenarnya alasan utama karena lebih nyambung dengan anak-anak yang tinggal disana (dan memang terbukti, sampai sekarang mereka jadi teman-teman terbaikku). Alasan lain… Karena sengaja pengen merasakan hidup susah, tanpa convenience yang sudah kudapat selama 18 tahun jadi anak orang “mampu”.

“Kalau mereka aja bisa, kenapa aku ngga bisa?”

“No pain, no gain. Kalo ngga sakit ya ngga belajar”.

Banyak gemblengan di rantau yang melatih aku jadi kuat, nggak cengeng, nggak menye-menye. Diusir dari kontrakan, pernah. Diamukin orang gara-gara nemu TV, pernah. Cari kerjaan door to door, pernah. Ga punya duit dan ga punya kerjaan, pernah. Ga punya kontrakan sehingga ga bisa registrasi buat ijin tinggal (padahal deadline perpanjangannya tinggal 2 minggu)… Pernaaaaah 😀

Saking beratnya hidup sendiri, sekitar umur 20 aku sempat kena “Cinderella syndrome” alias sindrom pengen menikah, semata-mata karena mikirnya setelah nikah = happily ever after bak dongeng Cinderella. Pikiran cetek cewek umur 20 yang nganggap hidup jadi lebih enak setelah jadi istri, dilindungi dan diayomi suami, masalah selesai setelah “diselamatkan” oleh laki-laki. Bahahahaaa…  begitulah cewek umur 20 yang masih lucu-lucunya. Untung waktu itu jodohnya belum ada, malah hidup makin kerasa berat gara-gara pindah merantau ke Jakarta dan kerja kantoran. Anak umur 20 disuguhin politik dunia kerja, shock jadinya 😓 Belum lagi perasaan lonely karena ngekos sendiri dan jauh dari teman-teman di Amsterdam. Rasanya sedih melulu. Tapi ga ada pilihan lain selain berjuang. Boleh nangis, tapi besok harus tegak lagi. Pantang berkeluh kesah. Untungnya dulu belum ada sosmed, jadi sarana menumpahkan kesedihanku adalah blog dan buku harian, privasi terjaga deh.

Ketika akhirnya menikah dengan Mbrotje, apakah Cinderella dari Surabaya ini lantas hidup enak? Kagaaaaaak hahaha. Masalah hidup malah jadi double karena masalah Mbrotje jadi masalahku juga. Misalnya karena gaji Mbrotje yang ngga tinggi membuat kita kesusahan dapat kontrakan. Saat hamil Icad, kami tak kunjung dapat kontrakan apartemen. Masih ingat banget malam-malam musim gugur, Mbrotje membonceng aku naik sepeda, keliling dari rumah teman ke teman lain, menanyakan info kontrakan. Kami pulang dengan tangan hampa. Tapi entah kenapa, aku masih bisa tersenyum sambil duduk di goncengan sepeda. Mengelus Icad di dalam perut yang masih janin 3 bulan. Masih diliputi ketenangan luaaaarr biasa.

“Je bent echt een Leeuwin,” (kamu kuat seperti singa betina) kata Annemiek, bidan yang mendampingi persalinanku. “Het was moelijk, pijnlijk maar je zegt geen woord.” (Persalinanmu susah dan menyakitkan tapi tak satu keluhanpun keluar dari mulutmu).

Dalam keadaan kliyengan karena capek usai melahirkan Icad, aku masih ga percaya mendengar pujian Annemiek. Benarkah aku ga mengeluh? Ga berteriak-teriak? Ga ngomel sedikitpun selama 2 jam ngeden? Ada sedikit rasa bangga, jujur aja. Berarti, aku cukup terlatih menghadapi situasi sulit dan penuh tekanan. Sampai sekarang, tiap saat-saat susah datang, aku berusaha mengingat detik-detik persalinan Icad. Dan menepuk pundakku sendiri.

“Je bent echt een leeuwin. You have that strength, that endurance. There’s no pain you can’t take.”

Prinsipku tetap: tak ada gunanya mengeluh. Mengeluh TIDAK menyelesaikan permasalahan, kecuali sekedar kelegaan semu. KAYAKNYA lega karena merasa sudah menumpahkan isi hati. Tapi percayalah, kelegaan itu tak akan bertahan lama. Malah jika kau mengeluh di sosmed, hanya akan menambah masalah… Yaitu mengundang ke-kepoan yang tak perlu dari pihak-pihak luar. Atau saran-saran yang sesungguhnya tak pernah kau minta.

Kalaupun mengeluh, ada tempat dan waktu yang tepat. Bukan sosmed. Sosmed itu semacam tempat sampah yang ada di muka umum; semua orang bisa mencium bau busuk muntahan pikiranmu. Dan curhat di sosmed juga berarti melibatkan terlalu banyak orang untuk urusan hatimu. Orang-orang yang tak perlu, tak penting, bahkan tak dekat secara pribadi denganmu.

Lebih baik mengaji.

Berdoa.

Memohon kekuatan pada Dia yang Maha Perkasa.

Bisikkan keluhanmu dalam doa; sesungguhnya itu lebih mulia dan menjaga aibmu. Menghindari sensi dan baper yang ngga perlu. 

Jadi boleh ya di tulisan ini aku mengucap:

“Ya Allah, aku lelah. Benar-benar lelah. Kalau nggak ingat dua pasang mata kecil yang selalu memandangku penuh ingin tahu… Pasti aku sudah menangis sepanjang waktu.”

Alhamdulillah… mengaji, membuka Al-Quran dan mengingat lagi surat Al-Insyirah membuat hatiku tenang.

InsyaAllah, semua akan baik-baik saja. Seorang Ibu boleh menangis, capek dan sedih. Tapi harus menyeka air mata. Usai itu, seorang Ibu harus tegak lagi. Untuk bisa berjalan lagi.

Fa innama’al ‘usri yusron, innama’al ‘usri yusro. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, setelah kesulitan ada kemudahan.

Dan bila telah usai satu urusan, kembalilah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Sesungguhnya urusan kita di dunia tak akan pernah usai, sampai rejeki kita habis nanti (alias mati).

Jadi, tetaplah berjalan ya, Bu. 

Tetaplah berjalan.

Tulis-menulis

Melepaskanmu

WhatsApp Image 2017-04-16 at 11.38.52

Tanah Kusir, 2017.

Di depan pusaramu semua kenangan kita bermain-main seperti flashback.

Pasar mayestik,

Toko Esa Mokan,

D-Best Fatmawati,

Pasar besar Malang,

Toko buku Siswa,

Pangsit Mie Gadjah Mada Pecinan, Malang…

Naik becak denganmu di Malang atau naik bajaj bersamamu di Jakarta. Bajaj oranye yang kini sudah punah. Lenganmu yang gendut menggamitku kuat-kuat. Menyusuri gang demi gang, kita keluar masuk pertokoan. Kita sama-sama suka lihat-lihat tas.

“Uti ini nggak hobi baju, tapi hobi tas. Lihat-lihat aja udah seneng.”

“Sama Ti, aku juga.”

Lalu Uti akan mentraktirku makan, sebagai upah nemenin jalan-jalan. Mau di ITC Fatmawati kek, Mayestik kek, atau Pasar Besar… kita selalu cari Bakmi Pangsit. Itu favorit kita berdua. Bakmi dengan pangsit rebus panas-panas… Habis makan, kita melewati toko emas. Mata Uti berbinar, tak tahan ingin mampir.

“Bentar, aku ta’ liat-liat mas-masan dulu,” katamu. Selain tas, mas-masan adalah benda favoritmu pula, jadi mampir toko mas adalah sebuah keharusan. Walau kita sama-sama tahu, tak ada yang bakal dibeli. Lalu pulang. Kembali naik bajaj oranye. Sesampainya di depan gerbang komplek, jari-jari gemukmu akan sibuk merogoh dompet mengambil lembaran lima ribuan yang sudah diuwel-uwel. Aku akan diam-diam tertawa melihat isi dompetmu yang amburadul. Uti dan Ibuku persis sama, suka nggak sabaran masukin uang ke dalam dompet. Apalagi kalau duitnya udah lecek. Pasti bakal makin diuwel-uwel.

Terlalu banyak kenangan bersamamu, Uti. Terutama tahun 2004-2005 semasa aku bekerja di Sudirman dulu. Aku selalu penuh sukacita pulang ke rumahmu di Haji Nawi setiap weekend. Menumpang kopaja dari dekat kost di Setiabudi, hingga terminal blok M, lalu lanjut dengan metro mini. Berjalan dari pertigaan margaguna di siang bolong. Lalu menjumpaimu duduk di ruang tamu sedang mengisi Teka-Teki Silang. Aku senang menghabiskan waktu di rumahmu. Memakan masakanmu yang sedap. Mendengarkan cerita-ceritamu. Atau larut malam, sayup-sayup mendengar kau menyanyikan kidung-kidung Jawa sambil menidurkan Dini, sepupuku yang masih bayi.

Yo prakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan padhangé kaya rina
Rembulané kang ngawé-awé
Ngélikaké aja turu soré-soré

….

Ketika aku pulang, tahun 2012, fisikmu sudah mulai melemah sejak serangan stroke pertama tahun 2009. Seingatku, aku tak lagi pernah mendengarmu bernyanyi. Jalanmu agak tertatih. Kau tak lagi mengajakku belanja-belanji. Terkadang saja kau masih naik bajaj biru (karena bajaj oranye udah dihapuskan) pergi ke apotik Cilandak untuk menemani Kakek ke dokter. Tapi sudah tak ada lagi acara njajan dan jalan-jalan ke Mayestik. Kau sudah mulai sakit. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2013, serangan stroke kedua, membuat kelemahanmu bertambah-tambah. Jalanmu harus dipapah, bahkan untuk pergi jauh kau harus menggunakan kursi roda. Kau tak lagi banyak sibuk di dapur membantu bik Ida masak. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2014, serangan stroke ketiga. Sejak saat itu kondisimu jelas makin menurun. Setiap hari putra-putrimu bertanya-tanya, sampai kapan kau kuat? Sampai kapan bertahan? Bicaramu mulai sulit. Bawelmu mulai hilang. Tapi tawa yang renyah melengking itu kadang masih ada…

2015 dan 2016, makin jelas di mataku bahwa hitungan mundur menuju hari kita berpisah telah dimulai. Kulitmu mulai kehilangan cahayanya, makin hari makin keriput dan kusam. Tubuhmu yang dulu gemuk segar jadi makin kurus. Tulang-tulangmu mengecil. Tawa renyahmu makin jarang terdengar. Sangat jarang…

2017, matamu mulai kehilangan binarnya. Satu serangan stroke terakhir di tahun 2016 membuat bicaramu benar-benar terganggu. Kami hanya bisa menebak-nebak maksudmu. Mengucapkan beberapa patah kata seperti membuatmu tersiksa. Begitu banyak energi yang kau keluarkan. Kau terlihat letih. Menolak memakai gigi palsumu hingga pipimu kempot dan terlihat jauh lebih tua dari usiamu…

Dan lima hari yang lalu, penyakit yang menggerogotimu pelan-pelan itu akhirnya mencapai titik fatalnya. Jantung. Tahukah Uti, wajah putra-putrimu yang basah dan bengap karena air mata, melihat fisik kecilmu yang sudah menyerah? Pada akhirnya, hitungan mundur itu pun semakin jelas. Tak ada lagi yang bisa diperjuangkan di dunia ini.

Dan mereka akhirnya memilih berjuang untuk akhiratmu. Mentalqinmu. Membisikkan kalimat-kalimat Allah di telingamu…

Semua terpampang dengan jelas, seperti flashback.

Melepaskanmu, pelan-pelan.

Melihat fisikmu melemah dari tahun ke tahun.

Sungguh, Allah tak pernah salah merancang siklus hidup manusia.

Dari tanah kembali ke tanah

Yang lemah kembali lemah

Terlahir dengan akal yang pelupa dan kelak akan lupa

Allahummagh firlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha

15 November 1937 – 12 April 2017