Catatan dari resto kecil, Tulis-menulis

Resto kecil: catatan di tengah episode

1 tahun 4 bulan sejak resto kecil membuka pintu di tanggal 25 Mei 2016. Resto kecil bertahan, bisa menghidupi dirinya sendiri, dan omzetnya makin bertambah.
Alhamdulillah…

Tapi, awal menjalaninya itu benar-benar masa nggak enak. Arief sempat tidak bekerja, hanya mengambil gaji sebisanya (itupun dikit banget dan dihitung utang karena resto kecil belum ada income). Lalu tentu berefek langsung ke saya dan anak-anak. Dana cadangan tipis, keadaan rekening kami kurus. Untuk hidup sehari-hari saya harus banyak putar otak terutama demi memenuhi kebutuhan anak-anak. Mei 2016, pernah kami bertahan dengan lauk teri kering serta bawang putih. Atau tempe, tahu, sambel. Anak-anak hampir tiap hari makan nasi goreng teri bawang, 3x sehari. Untuk cemilan saya beli biskuit marie, dihancurkan lalu dicampur susu kental manis coklat. Adonan itupun dibentuk bola-bola kecil. Kenapa marie nya digituin? Supaya jadinya banyak. Supaya sebungkus kecil marie bisa jadi cemilan seminggu buat dua anak.

Keluar masuk pasar dan toko untuk survey harga sayur pun saya lakoni untuk membantu arief. Nyetir sendiri, bawa dua anak. Awal buka dan pegawai cuma ada dua, saya bawa anak-anak ke resto menemani saya bantu Arief kupas kentang, rajang jamur, ngoncek bawang sementara meja-meja kami susun jadi tempat tidur dadakan dan tempat main alakadarnya. (Catat: saya melakukan ini karena membantu suami, ya.. bukan bekerja atau berkontribusi secara profesional untuk resto. Two different things!).

Saya tahu, itu konsekuensi. Saya sadar hari-hari akan susah, sejak malam-malam panjang dimana Arief duduk disebelah saya, memegang tangan saya, meminta pendapat tentang semua rencana ini. Segera setelah kontrak temporernya dengan sebuah perusahaan minyak berakhir, dia mohon ijin tidak mencari kerja kantoran dan akan konsentrasi menyiapkan resto. Demi pertanggung jawaban pada pihak yang sudah mengucurkan dana. Saya tahu. Saya paham bahwa hari-hari kedepan akan berat secara finansial…

Maret 2016, persis setelah kontrak kerja selesai dan persiapan buka resto masih berjalan santai (renovasi dapur belum  dimulai, masih tahapan planning) kami masih bisa “bernafas” karena arief dapat kerjaan secara remote (jarak jauh). Singkatnya, dia bekerja lewat perusahaan perantara bernama Crossover, yang memang menyediakan tenaga programmer secara remote untuk client mereka di seluruh dunia. 

Crossoveran” – demikian saya dan arief mengistilahkan pekerjaan itu – lumayan membantu keuangan kami dengan beberapa juta rupiah perbulan. Tapi lama-lama crossoveran makin keteteran. Bekerja secara remote ternyata cukup demanding apalagi dengan pengawasan via kamera yang cukup ketat, sedangkan fokus harus dibagi dengan belanja, mengawasi renovasi, mencari supplier, mengatur dana dan sebagainya. Akhirnya arief mundur. Hilanglah extra beberapa juta yang harusnya bisa untuk beli daging sapi, ikan, buah dan sayur berkualitas untuk anak-anak… Atau ekstra biaya bensin untuk saya berbelanja ke supermarket… Atau untuk sekedar beli lauk matang. Kami harus kehilangan convenience semacam itu. Hampir juga kami memberhentikan pembantu harian karena uang benar-benar mepet.

Di tengah semua kekacauan itu, saya hamil. Sungguh tak diduga. Dan qodarullah, si jabang bayi hanya dititipkan Allah selama 11 minggu di rahim. Kondisi saya mungkin kurang sehat, nutrisi harian aja ga karu-karuan. Diagnosa dokter, janin kurang sehat dan gagal berkembang. Pertumbuhannya terhenti sejak 8 minggu. Allah lebih tahu, sungguh Maha Tahu. Belum ada cukup rejeki bagi bayi itu untuk hidup di dunia. 25 Juni 2016, saya “melahirkan” kantung kehamilan yang sudah kisut tak bernyawa bagai balon kempes di kamar mandi rumah. Sungguh salah satu peristiwa terkelam dalam hidup saya… Dan terjadi di salah satu periode tersusah pula.

Saat merasa diri ini nggak mampu lagi, ternyata Allah memang lebih tahu. Peristiwa keguguran itu ternyata jadi titik klimaks. 25 Juni berlalu, bulan berganti Juli dan pelan-pelan cahaya di ujung terowongan gelap mulai nampak. Keadaan berangsur membaik. Segalanya terasa lebih enteng. Allah mempertemukan resto kecil dengan pegawai yang bisa dipercaya, satu demi satu. Customer mulai berdatangan. Tiba-tiba ada tawaran masuk TV di bulan September yang benar-benar terjadi secara random. 

Hari-hari setelah bulan September, apakah jadi gampang? Nggak juga. Tetap susah pada kadar yang berbeda. Kami ditampar kenyataan bahwa menjalankan operasional restoran itu setengah mati susah dan cobaannya. Harus komit waktu, tenaga, pikiran. Waktu hilang untuk keluarga dan hobby pribadi. Yang harusnya bisa santai di rumah, bercanda sama anak istri, jadi minim bahkan seringnya nggak bisa. Berangkat pagi pulang larut malam. Tengah malam pun masih harus pergi ke pasar induk. Gak bisa lagi masak-masak di dapur sendiri untuk menyalurkan hobby. Memasak tidak lagi menyenangkan. Bayangkan berhadapan dengan asisten-asisten yang masyaAllah menguji kesabaran, sudah gitu serba terbatas dapurnya. Belum mampu beli grill dan mengawali semua ini pakai alat rumahan -bayangkan masak steak pake kompor rinnai dan penggorengan yang keraknya tebal. Duit juga belum ada buat upgrade alat. Apa nggak frustrasi? Dan tuntutan untuk perform begitu tinggi. Customer maunya makanan jadi dengan enak dan cepat. Okelah jika yang menuntut customer, itu hal wajar karena mereka bayar.  Tapi tuntutan yang keluar dari partner bisnis, adalah hal yang sangat menyakitkan hati. Di saat seperti itu terpampang jelas kalau ga ada orang yang mau tahu kesusahan dan proses belajar kita. Dipikir, orang ga butuh belajar. Dituntut harus langsung bisa. Harus langsung perform. Ga boleh bikin kesalahan. Harus tahu semuanya dan harus langsung sempurna… Hal2 kayak gitulah yang menguras pikiran dan emosi.

Tenaga yang hilang mungkin bisa dipulihkan dengan pijat dan istirahat. Tapi pikiran dan emosi yang amburadul dibanting-banting sana-sini itu obatnya cuma sabar. Dan “sabar” itu prakteknya ga semudah pengucapannya.

Kadang merogoh kocek sendiri untuk memberi bonus karyawan dapur yang mentalnya 3D (Dikit Dikit Duit). Kalo kaga dikasih bonus kerjanya asal. Oya. Satu fakta lagi yg kita pelajari adalah: karyawan sampai kapanpun tetap karyawan, bukan owner. Dan karyawan resto adalah karyawan  KELAS BURUH. Jangan samakan dengan karyawan kantoran. Otak dan pikiran mereka nggak  nyampe untuk disuruh mikir hal-hal sophisticated macam jenjang karier, menjaga nama baik brand, maju bersama, membesarkan resto.  Boro-boro ngasih kontrak kerja atau code of conduct dalam bahasa Inggris, instruksi verbal aja kudu dalam bahasa  yang sederhana. Tak ada rasa peduli, memiliki, dan keinginan menjaga. Properti resto yang mahal-mahal diperlakukan alakadarnya. Diajarin sih bisa, tapi lamaaaa dan harus sabaaaaar karena dikasih tahu sekali, membuat kesalahan sekali itu ga bikin mereka langsung dhong atau mudeng alias faham. Proses belajarnya luammmma. Yaah.. sesuai lah dengan background mereka.

Disaat stok sabar menipis itulah, resto kecil dan orang-orang disekitarnya mengajarkanku banyak hal. Bukan soal manajemen restoran, tapi LEBIH dari itu. Allah mengasah intuisi kami dalam menilai orang lain. Belajar percaya pada diri sendiri disaat banyak mata memandang remeh. Dan… belajar percaya pada pasangan hidup. Ini tentang kekompakan suami-istri. Belajar bertukar pikiran. Berlatih jadi pendengar, supporter dan confidant (orang yang bisa dipercaya). Sesungguhnya itu adalah pelajaran berumah tangga yang paling mahal, yang gak semua pasangan dikasih oleh Allah. Ada jutaan pasangan suami-istri yang ada di dunia ini. Tapi hanya segelintir yang bisa saling mendengar, mendukung, kompak dan percaya satu sama lain. Hanya segelintir yang komunikasinya sehat dan cintanya terjaga bahkan bertambah seiring waktu. Seringnya kita melihat pernikahan yang tanpa cinta, seiring waktu berjalan jadi makin kaku, istri gagal memenuhi kebutuhan emosi suami dan sebaliknya. Hingga akhirnya salah satu bahkan kedua belah pihak mendapatkannya dari orang lain… Naudzubillah. Atau, yah, pernikahan yang berjalan bagaikan orang yang menderita sakit gigi tapi ga bisa ditambal lagi; hanya merintih dan mengeluh dalam hati masing-masing entah sampai kapan karena termakan ego masing-masing dan tak ada yang mau membuka diri.

Jadi, dear Mbrotje,

Aku bersyukur… Bahwa sejak resto kecil ada, aku jadi menunggu-nunggu kepulangan kamu setiap malam meskipun selarut apapun. Menunggu-nunggu ceritamu dan luapan emosimu meski itu kadang bikin aku ikut baper. Aku senang karena kamu membutuhkan aku lebih dari sekedar nyiapin minuman, masak sambel kesukaanmu atau menyiapkan kaos ganti dan sempakmu ketika kamu mandi. Pernikahan kita jadi lebih dari itu. Aku bahagia kamu butuh aku karena akulah orang yang paling kamu percaya. Partner curhat yang pertama dan utama. Orang yang bikin kamu nyaman dan mau membuka diri, gak menutupi emosi, ga menyimpan pikiran dan kegundahanmu sendiri… Dan itu adalah pencapaian yang luar biasa buat seorang pria yang notabene diciptakan Allah dengan sedikit emosi dan segunung ego. 

Dan buat aku sebagai seorang wanita yang diciptakan Allah sebaliknya (sedikit akal dan segunung emosi), bisa bertahan dan tetap tenang di tengah situasi tak menentu adalah pencapaian luar biasa juga. 

Episode resto kecil, bukanlah sesuatu yang sia-sia. Apapun takdir Allah terhadap resto kecil, selama setahun kemarin atas seijin Allah ia telah menjadi berkah sekaligus ujian buat kami. 

Semua perkara (yang menimpa) adalah kebaikan dan tidaklah hal ini terjadi pada seorang mukmin. Jika ia berbahagia maka ia bersyukur dan hal ini baik baginya. Jika ia diuji iapun bersabar dan hal ini juga baik baginya. 

Insyaa Allah.

Advertisements
Tulis-menulis

Syawal 2017: Alhamdulillah, happiness doesn’t cost much

Ramadhan sudah berlalu, dan hanya berhasil membuat 2 catatan. Pffftt. 

But anyway…

Lebaran kali ini istimewa karena nggak mudik. Saya diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan Ramadhan dan Idul Fitri dalam keadaan hamil tua… Tua usia kandungannya, juga tua usia “oven”nya.

Usia saya 33 tahun. Gak muda, tapi juga gak ketuaan banget untuk hamil. Secara medis, usia rawan adalah 35 thn keatas… Jadi saya masih lolos “seleksi” lah, hehehe.

Tapi karena sudah pernah merasakan hamil di usia < 30, persisnya 27 dan 29, saya jadi punya bahan perbandingan. And trust me, jauuuh lebih enaaaak hamil di usia sebelum 30. Hamil di usia 27 dan 29, bagi saya dulu sangaaaat nikmat dan nyantai. Body masih fit-fitnya. Kagak pernah saya kontraksi palsu sampe kesakitan. Malah, seinget  saya sih ga pernah kontraksi palsu!!! Alhamdulillah super lincah sampe menjelang lahiran. Fisik kuat. Waktu hamil Icad di Belanda, sanggup banget sepedaan dan jalan jauh ke halte bus sampai hamil tua. Hamil Ocid juga super fit, jarang flu, nyetir saat hamil tua juga masih biasa aja.

Hamil tua yang sekarang? Baaaaah… Tiap kali nyetir udah deh, kontraksi palsu langsung menghampiri. Bangun tidur rasanya kayak kura-kura terbalik, turun dari tempat tidur aja susah banget. Oh, dan kram. Hadeeeeh hamil kali ini tuh langganan kram. Kram kaki, tangan, sampe perut 😧 Aduh itu kram perut yaaaa rasanya warbiyasak, sumpah kalo ketemu driver nyebelin di jalan raya sekarang bukannya tak sumpahin tuh orang ketabrak… Tapi mending kusumpahin dia kram perut pas lagi nyetir. Yang namanya kram perut itu Naudzubillah, tsumma Naudzubillah lah pokok nya.

Mungkin itulah yang bikin emosi naik turun sampe akhirnya aku merasa lelaaah banget. Aku terus membanding-bandingkan hamil kali ini dengan hamil sebelumnya. Bikin sedih banget. 

So I decided to stop comparing things. Ya sudahlah, jalani aja. Idul Fitri kemarin aku coba bawa semuanya dengan happy. Masak, belanja, senang-senang dan menciptakan momen berkesan walau gak mudik.  Begadangan sama si Mbrotje masak opor sambil pacaran. Ajak anak-anak refreshing walau cuma ke Cibubur. Happiness doesn’t cost much. Yang penting momennya. Right?

I’m in a much better place now, walau masih pusing belum kelar nyuciin baju-baju bayi karena air dirumah lagi ngadat ha ha..  tapi saya optimis semuanya akan beres pada waktunya, kontraksi palsu akan berganti jadi kontraksi beneran di saat yang paling tepat – naturally, when the baby signals me that she wants to be born; naturally, the way Allah intended it.

Thanks for all of you who had read my self-loathing post and prayed for me, loudly or silently 😘

Love,

Mbak Nez.

Tulis-menulis

Imanku, kekuatanku

Ramadhan 2017, day 5

Aku masih baik-baik aja. Nothing to worry, guys🌷 Hanya sedikit lelah pikiran plus capek fisik juga, maklum hamil tua. FYI hamil di usia 33 tahun itu beda banget dengan hamil di bawah 30 tahun 😢 Sekarang kerasa banget encoknya, sering sakit di tulang selangka, juga pinggul… plus kram kaki. Pernah sekali kram perut. MasyaAllah ternyata kram perut itu suakiiiiiit. 

Anyway.

Beberapa minggu yang lalu di sosmed lagi gaduh soal iman, gara-gara tulisan viral karya remaja bernama Afi. Iman dan agama adalah warisan, katanya. Jadi ngapain berseteru gara-gara iman dan agama? Begitu menurut beliau.

Kemudian ribut bermunculan surat-surat balasan buat Afi. Yang intinya: agama bukan warisan. Sebenarnya tiap manusia sebelum dilahirkan sudah bersaksi di alam arwah bahwa mereka beriman pada Allah. Setelah lahir di dunia barulah jalan hidup dan orang tua nya yang menjadikan ia tetap beriman pada Allah ataukah melenceng.

Aku sendiri jarang menulis atau sharing soal agama di sosmed. Sekali lagi, menurutku sosmed bukan tempat yang tepat. Terlalu keruh, terlalu ramai untuk membahas hal yang sifatnya personal seperti keimanan. Ya, aku punya sikap dan keyakinan tentang agama Islam yang kupeluk. Seandainya aku ini ibunya si Afi, ya mungkin aku akan mengajaknya bicara panjang-lebar. Tapi aku bukan ibunya, bukan orang tua yang bertanggung jawab langsung atasnya. Jadi biarlah keyakinan itu cukup aku yang tahu, karena aku pemimpin bagi diriku sendiri. 

Ingat, tanggung jawab kita yang pertama dan utama adalah kepada diri sendiri. Kemudian keluarga terdekat (anak). Apabila laki-laki yang telah beristri, maka ia bertanggung jawab akan istrinya.

Yang jelas, aku yakin bahwa iman adalah kekuatan kita untuk menjalani hari-hari yang panjang dan berat di dunia ini. 

Ketika aku melihat orang-orang marah-marah di jalan, mengumpat, emosi, berkata-kata kasar, memperlakukan orang lain dengan semena-mena, bermandi egonya sendiri… Aku bukannya sebal. Aku kasihan. Kemana keimanan mereka? Tidakkah mereka percaya bahwa hidup ini cuma sementara? Dan tiap-tiap jiwa bertanggung jawab akan akibat dari perbuatannya sendiri. Jika kata-kata dan perbuatan mereka menyakiti orang lain, akibatnya akan panjang dan merugikan banyak pihak. 

Jadi, tidak akan pernah salah orang yang menahan emosinya.

Tidak akan rugi orang yang ikhlas dan bersabar.

Tidak akan rugi manusia yang bersandar dan berharap hanya pada Allah.

Kita butuh iman karena itulah satu-satunya pegangan yang abadi. Ga ada yang mampu menolong kita selain diri kita sendiri dan keimanan kita terhadap Allah. Ingat: kita terlahir sendiri, dan sesungguhnya kelak akan menempuh kematian sendirian. Kematian adalah rahasia besar yang tak seorangpun tahu. Seperti apa rasanya dijemput ajal? Sakitkah? Tak ada yang bisa menjawabnya kecuali mereka yang telah mendahului kita. Which is, gak mungkin lah ya kita bertanya pada roh-roh yang sudah “berangkat” 😉

Jadi, ngapain kita ikut ribut di sosmed perkara iman.

Iman adalah kekuatan kita. 

Keyakinan bahwa Allah tidak akan membebani diluar kesanggupan kita (Al Baqarah: 286) itulah iman.

Optimisme untuk terus berjuang, untuk tetap kuat dan bertahan, adalah buah dari iman.

Jadi, ngapain kita ribut perkara iman? 😉

Selamat berpuasa, teman-teman ❤