Tulis-menulis

Melepaskanmu

WhatsApp Image 2017-04-16 at 11.38.52

Tanah Kusir, 2017.

Di depan pusaramu semua kenangan kita bermain-main seperti flashback.

Pasar mayestik,

Toko Esa Mokan,

D-Best Fatmawati,

Pasar besar Malang,

Toko buku Siswa,

Pangsit Mie Gadjah Mada Pecinan, Malang…

Naik becak denganmu di Malang atau naik bajaj bersamamu di Jakarta. Bajaj oranye yang kini sudah punah. Lenganmu yang gendut menggamitku kuat-kuat. Menyusuri gang demi gang, kita keluar masuk pertokoan. Kita sama-sama suka lihat-lihat tas.

“Uti ini nggak hobi baju, tapi hobi tas. Lihat-lihat aja udah seneng.”

“Sama Ti, aku juga.”

Lalu Uti akan mentraktirku makan, sebagai upah nemenin jalan-jalan. Mau di ITC Fatmawati kek, Mayestik kek, atau Pasar Besar… kita selalu cari Bakmi Pangsit. Itu favorit kita berdua. Bakmi dengan pangsit rebus panas-panas… Habis makan, kita melewati toko emas. Mata Uti berbinar, tak tahan ingin mampir.

“Bentar, aku ta’ liat-liat mas-masan dulu,” katamu. Selain tas, mas-masan adalah benda favoritmu pula, jadi mampir toko mas adalah sebuah keharusan. Walau kita sama-sama tahu, tak ada yang bakal dibeli. Lalu pulang. Kembali naik bajaj oranye. Sesampainya di depan gerbang komplek, jari-jari gemukmu akan sibuk merogoh dompet mengambil lembaran lima ribuan yang sudah diuwel-uwel. Aku akan diam-diam tertawa melihat isi dompetmu yang amburadul. Uti dan Ibuku persis sama, suka nggak sabaran masukin uang ke dalam dompet. Apalagi kalau duitnya udah lecek. Pasti bakal makin diuwel-uwel.

Terlalu banyak kenangan bersamamu, Uti. Terutama tahun 2004-2005 semasa aku bekerja di Sudirman dulu. Aku selalu penuh sukacita pulang ke rumahmu di Haji Nawi setiap weekend. Menumpang kopaja dari dekat kost di Setiabudi, hingga terminal blok M, lalu lanjut dengan metro mini. Berjalan dari pertigaan margaguna di siang bolong. Lalu menjumpaimu duduk di ruang tamu sedang mengisi Teka-Teki Silang. Aku senang menghabiskan waktu di rumahmu. Memakan masakanmu yang sedap. Mendengarkan cerita-ceritamu. Atau larut malam, sayup-sayup mendengar kau menyanyikan kidung-kidung Jawa sambil menidurkan Dini, sepupuku yang masih bayi.

Yo prakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan padhangé kaya rina
Rembulané kang ngawé-awé
Ngélikaké aja turu soré-soré

….

Ketika aku pulang, tahun 2012, fisikmu sudah mulai melemah sejak serangan stroke pertama tahun 2009. Seingatku, aku tak lagi pernah mendengarmu bernyanyi. Jalanmu agak tertatih. Kau tak lagi mengajakku belanja-belanji. Terkadang saja kau masih naik bajaj biru (karena bajaj oranye udah dihapuskan) pergi ke apotik Cilandak untuk menemani Kakek ke dokter. Tapi sudah tak ada lagi acara njajan dan jalan-jalan ke Mayestik. Kau sudah mulai sakit. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2013, serangan stroke kedua, membuat kelemahanmu bertambah-tambah. Jalanmu harus dipapah, bahkan untuk pergi jauh kau harus menggunakan kursi roda. Kau tak lagi banyak sibuk di dapur membantu bik Ida masak. Tapi bawelmu masih ada… Tawamu masih renyah.

2014, serangan stroke ketiga. Sejak saat itu kondisimu jelas makin menurun. Setiap hari putra-putrimu bertanya-tanya, sampai kapan kau kuat? Sampai kapan bertahan? Bicaramu mulai sulit. Bawelmu mulai hilang. Tapi tawa yang renyah melengking itu kadang masih ada…

2015 dan 2016, makin jelas di mataku bahwa hitungan mundur menuju hari kita berpisah telah dimulai. Kulitmu mulai kehilangan cahayanya, makin hari makin keriput dan kusam. Tubuhmu yang dulu gemuk segar jadi makin kurus. Tulang-tulangmu mengecil. Tawa renyahmu makin jarang terdengar. Sangat jarang…

2017, matamu mulai kehilangan binarnya. Satu serangan stroke terakhir di tahun 2016 membuat bicaramu benar-benar terganggu. Kami hanya bisa menebak-nebak maksudmu. Mengucapkan beberapa patah kata seperti membuatmu tersiksa. Begitu banyak energi yang kau keluarkan. Kau terlihat letih. Menolak memakai gigi palsumu hingga pipimu kempot dan terlihat jauh lebih tua dari usiamu…

Dan lima hari yang lalu, penyakit yang menggerogotimu pelan-pelan itu akhirnya mencapai titik fatalnya. Jantung. Tahukah Uti, wajah putra-putrimu yang basah dan bengap karena air mata, melihat fisik kecilmu yang sudah menyerah? Pada akhirnya, hitungan mundur itu pun semakin jelas. Tak ada lagi yang bisa diperjuangkan di dunia ini.

Dan mereka akhirnya memilih berjuang untuk akhiratmu. Mentalqinmu. Membisikkan kalimat-kalimat Allah di telingamu…

Semua terpampang dengan jelas, seperti flashback.

Melepaskanmu, pelan-pelan.

Melihat fisikmu melemah dari tahun ke tahun.

Sungguh, Allah tak pernah salah merancang siklus hidup manusia.

Dari tanah kembali ke tanah

Yang lemah kembali lemah

Terlahir dengan akal yang pelupa dan kelak akan lupa

Allahummagh firlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha

15 November 1937 – 12 April 2017

Advertisements

2 thoughts on “Melepaskanmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s