Tulis-menulis

Syawal 2017: Alhamdulillah, happiness doesn’t cost much

Ramadhan sudah berlalu, dan hanya berhasil membuat 2 catatan. Pffftt. 

But anyway…

Lebaran kali ini istimewa karena nggak mudik. Saya diberi kesempatan oleh Allah untuk merasakan Ramadhan dan Idul Fitri dalam keadaan hamil tua… Tua usia kandungannya, juga tua usia “oven”nya.

Usia saya 33 tahun. Gak muda, tapi juga gak ketuaan banget untuk hamil. Secara medis, usia rawan adalah 35 thn keatas… Jadi saya masih lolos “seleksi” lah, hehehe.

Tapi karena sudah pernah merasakan hamil di usia < 30, persisnya 27 dan 29, saya jadi punya bahan perbandingan. And trust me, jauuuh lebih enaaaak hamil di usia sebelum 30. Hamil di usia 27 dan 29, bagi saya dulu sangaaaat nikmat dan nyantai. Body masih fit-fitnya. Kagak pernah saya kontraksi palsu sampe kesakitan. Malah, seinget  saya sih ga pernah kontraksi palsu!!! Alhamdulillah super lincah sampe menjelang lahiran. Fisik kuat. Waktu hamil Icad di Belanda, sanggup banget sepedaan dan jalan jauh ke halte bus sampai hamil tua. Hamil Ocid juga super fit, jarang flu, nyetir saat hamil tua juga masih biasa aja.

Hamil tua yang sekarang? Baaaaah… Tiap kali nyetir udah deh, kontraksi palsu langsung menghampiri. Bangun tidur rasanya kayak kura-kura terbalik, turun dari tempat tidur aja susah banget. Oh, dan kram. Hadeeeeh hamil kali ini tuh langganan kram. Kram kaki, tangan, sampe perut 😧 Aduh itu kram perut yaaaa rasanya warbiyasak, sumpah kalo ketemu driver nyebelin di jalan raya sekarang bukannya tak sumpahin tuh orang ketabrak… Tapi mending kusumpahin dia kram perut pas lagi nyetir. Yang namanya kram perut itu Naudzubillah, tsumma Naudzubillah lah pokok nya.

Mungkin itulah yang bikin emosi naik turun sampe akhirnya aku merasa lelaaah banget. Aku terus membanding-bandingkan hamil kali ini dengan hamil sebelumnya. Bikin sedih banget. 

So I decided to stop comparing things. Ya sudahlah, jalani aja. Idul Fitri kemarin aku coba bawa semuanya dengan happy. Masak, belanja, senang-senang dan menciptakan momen berkesan walau gak mudik.  Begadangan sama si Mbrotje masak opor sambil pacaran. Ajak anak-anak refreshing walau cuma ke Cibubur. Happiness doesn’t cost much. Yang penting momennya. Right?

I’m in a much better place now, walau masih pusing belum kelar nyuciin baju-baju bayi karena air dirumah lagi ngadat ha ha..  tapi saya optimis semuanya akan beres pada waktunya, kontraksi palsu akan berganti jadi kontraksi beneran di saat yang paling tepat – naturally, when the baby signals me that she wants to be born; naturally, the way Allah intended it.

Thanks for all of you who had read my self-loathing post and prayed for me, loudly or silently 😘

Love,

Mbak Nez.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s