Tulis-menulis

Choose (+) vibes. Only (+) vibes (dan kabar terbaru dari si Kucing).

Hari Rabu, dan beberapa kabar terbaru.

Kita dikelilingi banyak jenis orang dalam hidup ini. Ada yang menyebarkan vibrasi negatif (-), ada yang positif (+).

Aku punya teman baik yang kalo ketemu sukanya curhat, mencurahkan kekesalan, di telingaku curhatnya dia tuh bernada iwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwiwi….. nyaring dan penuh penghayatan, hahaha. Macem-macem lah curhatnya dari mulai suami yang rewel sama masakannya, sampe perseteruan sama resepsionis hotel.

Apakah dia orang yang buruk? No, tapi memang “vibration” nya aja negatif seperti itu, orangnya suka (terlalu) jeli, over-critical, yang diomongin hal-hal yang susah duluan daripada yang menyenangkan. Banyak tipe orang yang kayak gini? Buanyakkkk, jeng. Tipe orang yang suka makan nasi duluan dan menyisakan lauk enak untuk dinikmati belakangan, hehe.

Ada lagi nih, tipe orang yang – kalau di mata kuliah Personality Development dulu – seorang yellow hat. Orang yang super duper positif dan kalau di team dia pasti bilang “bisa!” duluan daripada yang lain. Mereka seringnya modal nekad dan spontan. Kalo disodorin proyek yang susah dan berbelit dia akan mikir “gimana caranya supaya bisa dikerjain” atau “aku ga bisa bilang gagal sebelum aku coba”. Si Mbrotje ini tipe yang begini banget :P To-do-list masih segambreng di depan mata padahal udah mepet deadline pun dia masih tenang dan berpikir “dikit lagi, sebenarnya cuma dikit lagi. Pasti bisa.” Padahal sebenarnya dalam hati doi ketar-ketir juga, he he.

Nah, dalam teamwork, saat dua vibrasi ini bertemu kadang memang gak klop jadinya. Susahnya disitu, harus ada penengah atau salah satu pihak mengalah. Di resto kecil, gesekan seperti ini sering terjadi. Ya maklum aja pihak yang berkepentingan ada beberapa dan masing-masing punya vibrasi sendiri. Disini, ego yang berperan besar. Kalau ada team member yang egonya besar, dia tidak akan pernah memberi ruang di hatinya untuk berusaha memahami pihak lain. Namanya manusia, ego kadang naik-turun ya… Di situlah drama terjadi.

Selama resto kecil berjalan, gak mungkin lah kalau ga pernah terjadi drama internal. Baik antar owner dan investor, maupun antara manajemen dan karyawan… banyak cerita dan duka yang sudah terjadi. Seperti yang saya tulis di atas, wajarlah gesekan karena personality yang berbeda-beda. Cara mereka menghadapi masalah juga jauh berbeda. Namanya resto pasti ada ajalah rintangannya: supplier ngirim barang jelek, alat dapur rusak, menghadapi customer yang moodnya lagi jelek. Namanya juga kenyataan hidup ya, nggak sepanjang hari matahari bersinar, pelangi melengkung di atas kepala dan turun hujan permen warna-warni dari langit :P #hiperbol

Tapi konflik itu ada untuk dihadapi, bukan sarana bagi kita untuk melarikan diri. Di saat konflik terjadi inilah kita diuji. Kita harus banyak belajar.

Nah, karena suami saya orang yang terbuka, suka curhat ini-itu, saya tahu banyak hal yang selama ini terjadi di balik layar. Some things are nice, some are not so nice.

Awalnya karena masih baperan, saya ikut bingung. Ikut kepikiran. Apapun yang di share suami jadi negative vibration yang mempengaruhi mood. Tapi lama-lama saya belajar untuk lebih tenang. Belajar jadi pendengar yang baik, yang menenangkan. Saya belajar memberi kepercayaan pada suami saya, bahwa dia bisa melalui semua ini. Saya belajar membiarkan suami jatuh pada kegagalan, tapi percaya dia akan belajar agar tak mengulangi kesalahan yang sama. In return, saya mendapat kepercayaan lebih tinggi dari suami. Dia nggak ragu untuk terbuka dan cerita banyak hal.

Dan demikianlah, vibrasi negatif (-) bisa jadi vibrasi positif (+). Well at least itu menurut saya, yah.

—–

Oh, dan ada berita terbaru soal anggota keluarga kami yang berbulu, alias si Kucing.

Beritanya adalah: bahwa dia sudah pergi, alias hilang dari rumah. Hiks. Waktunya “mampir” di keluarga kami sudah habis. Di siang hari tanggal 15 September, dia pergi main keluar rumah seperti biasanya… Dan tak kembali lagi. Dicuri? Tersesat? Entahlah. Yang kami yakin, berhubung dia ini kucing setengah ras dan terlihat menarik, pastinya ada yang memungut dia.

And so, seperti kemunculan si Kucing yang begitu tiba-tiba, perginya dia pun tiba-tiba. Awalnya sedih, sih. Tapi saya meyakini satu hal. Bahwa keluarga kami cuma perantara antara tuannya yang dulu dan tuannya yang sekarang. I would like to believe that wherever he is now, he is safe in a good, loving, new human hands. New human yang menyayangi si Kucing, seperti kita yang sayang padanya saat dulu menemukan dia tersesat dari rumah lamanya.

Daaah, kucing. Makasih dah mampir di keluarga kita… Baik-baik ya sama keluargamu yang selanjutnya.

Kiss kiss,

Ummi kucing (mbak Nez).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s