Catatan dari resto kecil

Bagaimana melunakkan hati orang tua sebelum melangkah berbisnis kuliner (dan sedikit tentang Post-Power Syndrome)

Untitled
percakapan dengan ibu mertua dalam bahasa indonesia campur jawa

“Mbak, dulu orang tua setuju gak sih, kalo mas Ari berhenti jadi pegawai dan malah bisnis kuliner?” Ahaaaa, pertanyaan menarik ya gaesss… dan jawabannya adalah…..

Well, sebelum masuk ke jawaban ada baiknya cerita-ceriti sedikit dulu tentang kabar resto kecil yang terbaru.

Jadi, alhamdulillah kami udah punya dua outlet sekarang. Semua masih di Bintaro. Outlet lama di sektor 2 masih ada, dan sekarang nambah sektor 7. Jangan dianggap mentereng dan keren dulu. Outlet nambah, artinya investor dan pemegang saham nambah, pusingnya juga nambah. Tapi biarlah curcolan itu untuk lain kali aja ya. Kali ini mau membahas sisi positifnya aja dari usaha yang makin berkembang.

Sisi positifnya adalah bisa membuktikan ke orang tua (yang dulunya ragu dengan langkah anak-anaknya berwiraswasta), bahwa kami mampu. Dan kami bertahan.

Karena awal-awal dulu susah lo meyakinkan mereka atas keputusan ini. Kebetulan kalau orang tuaku sendiri juga berwiraswasta (setelah bapak pensiun jadi pegawai negeri), jadi mencari dukungan dari mereka jauh lebih mudah (walau tetap ada dramanya sedikiiiiit). Tapi yang lebih menarik dibahas dan lebih bikin emosi naik-turun adalah reaksi dari mertua.

Post-power syndrome

 

Background bapak mertua sama seperti bapakku, pegawai negeri struktural (bekerja di departemen/ kementrian). Bedanya, karena satu dan lain hal, bapak mertua memutuskan mundur dari kementriannya (beliau dulu di Kementerian Pekerjaan Umum), lalu pindah jadi dosen alias pegawai negeri fungsional sejak tahun 2004. Sedangkan bapakku menjabat hingga selesai masa jabatan (2012) dan pensiun dari departemennya (beliau di Kementerian Agraria).

file_1489491552

Setelah menjadi dosen, tentu keadaan keuangan jauh berubah. Aneka privilege berupa: bepergian gratis untuk urusan dinas, memiliki anak buah dan pesuruh, supir kantor, kendaraan dinas; semua menghilang. Itu terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu dan sayangnya bapak serta ibu mertua tidak bisa melalui proses adaptasi dengan mulus. Walhasil efeknya masih tersisa sampai sekarang. Mereka berdua cenderung menujukkan ciri-ciri yang sama: mengidap Post-Power Syndrome. Ini juga menjangkiti bapakku sendiri setelah pensiun.

Post power syndrome biasanya muncul setelah orang kehilangan kekuasaan atau jabatan, diikuti dengan harga diri yang menurun. Akibatnya, ia […] lebih mudah tersinggung dan curiga.

[…] ini sering dikaitkan dengan masalah emosional seperti melakukan agresivitas verbal, marah-marah, gampang tersinggung dan tidak bisa dikritik. Bisa juga rasa curiga dan tersinggung muncul ketika saran atau pendapatnya tidak dijalankan.

Selain itu orang yang mengalami post power syndrome juga menjadi suka ikut campur dan mengatur secara berlebihan hal-hal di sekitarnya yang bahkan bukan menjadi tanggung jawab ataupun urusannya dan tidak diminta.

Ikutan bingung

Lalu apa hubungan post-power syndrome dan reaksi mertua akan keputusan kami berbisnis kuliner? Ada dong. Karena manifestasi post-power syndrome ini nampak dari reaksi mereka.

Ibu, memiliki kecenderungan seperti ciri yang saya kutip di atas: suka mengatur secara berlebihan. Sedangkan bapak, kecenderungannya jadi tidak menapak pada kenyataan. Bapak, di awal resto kecil buka dulu, punya harapan-harapan yang tidak masuk akal.

Awal resto buka dulu, bapak sangat mendukung. Bahkan beliau dengan bangga ikut promosi restoran ke grup keluarga besar, juga ikut kasih ide nama restoran… benar-benar aktif ikut diskusi masalah restoran di grup keluarga. Padahal beliau ini yang dulu ngotot mengirim si Mbrotje kuliah teknik di Belanda supaya jadi insinyur seperti beliau, jadi awalnya kami pikir kalo si Mbrotje “banting setir” beliau bakal menentang keras. Ketika dijelaskan visi misi ke depan dan impian kami bahwa resto kecil akan buka cabang atau di-franchise kan, dan memberi contoh menu serta harga-harga makanan kami yang dirasa cukup oke untuk menyasar orang-orang Bintaro…. kelihatan sekali bapak berbinar penuh harap. Apalagi ketika menginjak bulan kedua, restoran mulai ramai dan kadang full house saat weekend.

(Spoiler: ternyata harapan ini-lah yang kemudian akan jadi sumber drama, baca terus ya… Hehe).

Sedangkan ibu, bereaksi sesuai dugaan kami: cenderung menentang. Wiraswasta artinya pemasukan tak menentu dan bagi ibu hal ini merupakan ketakutan besar. Manifestasinya, beliau jadi over khawatiran dan ikut mengatur hal-hal detil. Tiap malam beliau ngirim WA, dan selalu pas sekitar jam tutup restoran. Segala remeh-temeh di cek oleh beliau.

Dino iki omsete piro? (translated: hari ini omsetnya berapa)

Uangnya udah disimpen? Disimpen di mana?

Yang pegang uang karyawan? Siapa? Bisa dipercaya?

Laci tempat uang ada kuncinya?

Bikinin kunci ganda, udah?

Pasang cctv, udah?

Pager resto udah digembok?

Kami hanya sabar aja, menjawab semua pertanyaan ibu dan keingin tahuan beliau sebisa mungkin…. Sampai pada satu waktu kami (terpaksa) harus cerita kalau pemasukan kami satu-satunya adalah gaji dari resto, yang “cuma” sebesar 2,5 juta. Walhasil, ibu mertua bingung dan ternyata, eeeh…. diceritakanlah hal ihwal hidup prihatin kami ini ke bapak mertua.

Lalu ting! Muncul WA dari bapak mertua (yang persisnya redaksinya gimana saya udah lupa, tapi intinya seperti ini):

Bagaimana ini?? Ibu cerita tentang keadaanmu. Kok kamu cuma ambil gaji 2,5 juta dari restoran per bulannya? Bapak ndak setuju kamu menjalankan restoran kalau seperti itu. Bukannya ini sudah 4 bulan berjalan, kan seharusnya tiap malam sudah ada 10 meja di restoranmu, jika tiap meja bayar 200.000 kan penghasilanmu 2 juta per malam artinya dalam seminggu 14 juta dan sebulan 64 juta. Sedangkan untuk gaji karyawan dan belanja bahan berapa, toh nggak ada separonya?

Artinya kamu seharusnya sudah bisa dapat uang sekitar 40 juta tiap bulan, dong?

Lebih terbuka tentang hal-hal nggak enak

Waktu itu, aku dan Mbrotje cuma bisa garuk-garuk kepala yang gak gatal. Kami bener-bener kaget. Sadarkah bapak, jika hitung-hitungan dan harapan beliau ini nggak masuk akal (untuk waktu yang sesingkat hitungan bulan)?

Kemudian kami flashback, dan menyadari sesuatu… Ooh! Mungkin bapak menaruh harapan yang terlalu tinggi pada kami. Pada saat kami menjelaskan visi misi restoran, dan impian kami bahwa restoran akan begini dan begitu… bapak berharap itu bisa langsung terwujud dalam hitungan bulan. Beliau tidak tahu, ada proses panjaaaaang dan mungkin bertahun-tahun yang harus kami lalui sebelum semua impian buka cabang itu terwujud (bahkan in the end ada resiko itu semua tak terwujud).

Nah mungkin inilah wujud post-power syndromenya beliau ya: suka bicara (dan berharap) terlalu tinggi. Beliau pikir, 3-4 bulan bisa langsung terasa hasilnya. Ternyata bapak selama ini tidak menapak di tanah… tidak menapak pada kenyataan. Beliau tak sadar, ada resiko usaha bisa gagal. Karena post-power syndrome nya ini membuat beliau menapak di langit penuh impian.

Bukannya restoran sudah mulai ramai? Tanya beliau.

Alhamdulillah iya pak, tapi ramai itu kan ndak setiap hari. Di hari-hari yang sepi kita tetap buka tapi listrik, air, gas, bahan baku semua tetap terpakai… itu kan berarti biaya operasional tetap berjalan. Pemasukan dari hari yang ramai itu untuk menutup biaya operasional di hari yang sepi. Kami menjelaskan pelan-pelan.

Bapak muram. Rupanya, beliau baru sadar bahwa menjalankan restoran itu sulit. Selama ini beliau mendukung, bahkan berbangga, semuanya karena berharap kami bisa memetik sukses dengan cepat.

Setelah kejadian itu, kami jadi lebih terbuka tentang susah-susahnya operasional restoran. Tentang customer yang marah-marah, atau pegawai yang mencuri daging. Suatu ketika kami memberi link ke zomato, dan beliau membaca sendiri review-review resto kecil dari yang bagus, netral sampai yang jelek. Di zomato ada yang nulis kalau steaknya keras, bagaimana itu??? Kami cuma bisa tersenyum, menjelaskan jika hal ini sudah ditangani dengan baik. Kali lain, ketika bapak kami ajak ke resto kecil… pas banget di depan mata beliau ada customer yang marah-marah. Wajah bapak pada waktu itu benar-benar kebingungan. Bagaimana kejadian tadi itu, orangnya sampai marah karena pesanannya terlalu lama dimasak? Desak beliau dengan panik. Ya pak, bagaimana lagi? Kita masih banyak kendala dengan alat-alat dapur, doakan saja semoga bisa diperbaiki.

Lagi-lagi bapak terdiam. Entahlah, kami hanya berdoa semoga dengan jujur mengenai kesulitan kami, tidak menambah pikiran bapak.

Sekarang….

2 tahun sudah berlalu sejak “drama” itu, dan ibu mertua masih rajin mengirim WA setiap malam. Sekedar ingin tahu, berapa besar omset malam itu. Lalu mengingatkan kami akan hal-hal detil yang sebenarnya, tanpa beliau ingatkan pun, sudah pasti kami lakukan. Kami cuma bisa senyum dan menjawab dengan sabar dan santun. Sudahlah, hanya tanda sayang seorang ibu yang terlalu besar rasa khawatirnya.

Tapi setiap kali beliau ke Jakarta, kami selalu mengajak beliau makan di resto kecil. Kebetulan jika kesini pas weekend, jadi pas banget lagi rame. Beliau bisa melihat sendiri hiruk-pikuk restoran dan teamwork karyawan kami, juga kami jelaskan siapa saja karyawan yang sekarang ada. Alhamdulillah dengan berbagi cerita-cerita kecil seperti itu, bisa menentramkan hati beliau untuk ridho dengan pilihan kami berbisnis kuliner.

Sedangkan bapak mertua, ketika pembukaan cabang kedua beliau tiba-tiba ingin datang ke Jakarta. Beliau alhamdulillah masih menunjukkan support, meskipun kami pernah bercerita tentang kesulitan-kesulitan dalam menjalankan restoran.

Jadi tips kami, untuk kalian yang ingin berwiraswasta tapi bingung bagaimana melunakkan hati orang tua: berceritalah apa adanya, realistis saja. Ajak mereka untuk sama-sama mengerti apa resiko yang sedang kalian hadapi.

InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja. You can do it!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s