Tulis-menulis

The true privilege

IMG_20190306_122234_HDR

Hari ini, 6 Maret 2019, officially adalah hari dimana saya kembali “bekerja”. Jadi, kemarin malam si Mbrotje pulang membawa surprise yang sudah lama dijanjikannya: laptop baru.

So here I am, back blogging. And this is my current “work situation”.

Dapur adalah tempat favorit saya, karena ruangan ini terang. Biasanya kalau siang saya menghabiskan waktu di sini untuk membaca. Ada kanopi fiber yang berfungsi jadi skylight, dan meja makan lipat yang kalau malam buat workshop roti nya si Mbrotje (makanya ada mixer, hehe, dan mixer Kiki alias Kitchen Aid ini terlalu berat untuk digeser jadi biarlah dia menemani saya ngetik). Mejanya saya bersihkan, lalu diberi sedikit sentuhan personal. Ada kartu pos kenangan dari Belanda, lalu foto-foto masa kecil. Satu-satunya foto saya bersama kedua nenek, dan foto saya bersama ibu. Jadilah meja “kerja” saya.

Nggak sih, saya nggak kerja buat perusahaan. Buat diri sendiri aja.

Bahkan mungkin saya bukan bekerja dalam arti sebenarnya (if it means making money).

I just want to remind myself that I love to write. This is my “profession”: I’m a writer.

Dulu pernah baca blog seorang psikolog (jadul banget jaman masih ada multiply, sekarang blognya udah nggak ada), dan dia bilang:

Kalau ngelihat anak yang pinter, dan percaya sama diri sendiri, gue mau cari ibunya. Mau salamin ibunya.

Pas banget, netijen endonesah lagi ribut-ribut masalah Maudy Ayunda yang galau harus memilih antara Stanford dan Harvard untuk S2nya. Saya jadi ingat tulisan si psikolog tadi. Dan ya, saya langsung mikir: bukan Maudynya yang hebat. Tapi ibunya.

This girl Maudy – if you google about her … dia ini difasilitasi dengan baik. She plays flute, guitar, piano. She speaks Spanish, Mandarin and English. Dan masih banyak lagi. Dalam pikiran saya, yang seorang ibu, saya terbayang kerja keras ibunya. Meraba potensi anaknya sejak kecil. Mengenal karakter anaknya. Memberi makan tak hanya lahiriah, tapi batiniah. Lalu membawanya ke tempat yang tepat.

Butuh seorang ibu yang bahagia, untuk bisa maksimal melakukan itu semua!

b9e0f-nahlsurat78

Surat An-Nahl ayat 78: manusia terlahir dengan potensi yang sama. Ya, kita sama-sama lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Pilihan pertama ada di orang tua kita. Mereka-lah yang membuat pilihan-pilihan di awal hidup kita.

Dan pilihan mendasar yang bisa dibuat oleh tiap manusia adalah untuk bersyukur atau tidak bersyukur.

Ketika lahir, kita nggak bisa milih kan? Mau ibu yang kayak apa. Mau lingkungan seperti apa. Duit dan sekolah internesyenel juga ga menjamin kita bakal dikelilingi dengan attitude yang bener. Kasus di Surabaya bulan Januari kemarin, kurang malu-maluin apa coba? Sesama ibu-ibu seteru rebutan parkir sampai akhirnya salah satu ibu menabrak lawannya! Dan disaksikan anaknya yang masih kelas 2 SD, pula. Kejadiannya di sekolah internasional lo. Jelas duit dan posisi nggak menjamin seseorang bisa jadi orang tua yang bener.

Lantas apa yang bisa bikin seseorang jadi bener?

Ya rasa bersyukur. Rasa bahagia. Rasa cukup menjadi diri sendiri. Gak harus punya duit banyak untuk bisa sekolah di British International School kayak Maudy, kok. Jangan fokus disana. Cukup jadi ibu yang percaya diri, agar anaknya juga percaya diri dan bisa maksimal potensinya.

Ada kutipan favorit saya dari Laila Ahmad:

Harta yang berharga dalam hidup adalah punya banyak pilihan. Sayangnya untuk punya banyak pilihan, kita butuh banyak uang.

So I guess that brings us to the second point: money.

Dalam hidup ini, pintar secara akademis itu nggak cukup. Saya pribadi nggak pernah iri dengan orang yang mentereng secara akademis. Yang paling penting adalah mengenal diri sendiri. Percaya diri. Menerima kekurangan dan tahu apa kelebihan kita.

So here I am, getting in touch with myself. And yes, sometimes you need money for that. Suami saya punya pekerjaan yang bisa menghidupi kami, tanpa saya harus ikut bekerja. He’s no billionaire but it’s enough. Dan setelah kami menabung, ada cukup uang untuk bisa beli laptop buat saya di rumah. Gak harus Macbook, kok. Gak harus yang termahal untuk bikin bahagia. Sekedar memberi makan jiwa dengan apa yang jadi kelebihan saya, tanpa menampik bahwa saya masih punya banyak kekurangan. Saya cuma ingin jadi pribadi yang bahagia dan bersyukur, dan percaya diri. When I gain my confidence, I will raise my kids with confidence!

Saya bersyukur memiliki privilege ini. Privilege untuk sekedar berkarya, meski di jalur independen. Meski tulisan saya terkadang niche atau kurang nge-pop. Meski tak menghasilkan uang. Hanya karya untuk membuat diri makin bahagia sebagai seorang ibu, istri, dan wanita.

I may not be crazy rich like Maudy’s mother who can afford the most exclusive education…

But I sure am privileged :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s